Sabtu, 12 November 2011

Kesetaraan Gender : Pekerja Perempuan Sebagai Sumber Daya Pembangunan, Wajib di Lindungi


Ilustrasi
Mencari sesuap nasi, begitulah ungkapan yang lumrah dan sering dikatakan orang pada umumnya ketika bekerja. Sebuah ungkapan yang disadari atau tidak, adalah sebuah bentuk ekspresi tanggung jawab seorang pekerja guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Meskipun dulu, ungkapan tersebut lebih pada menunjukkan sebuah dominasi kaum laki-laki. Tapi sekarang, ungkapan ini sudah bukan lagi domain kaum laki-laki saja, namun jauh merambah kepada kaum perempuan.

Sejak gaung emansipasi perempuan yang disuarakan Kartini pada akhir abad 1800-an, tuntutan kesetaraan gender selalu mengalami peningkatan di setiap aspek kehidupan, termasuk dunia kerja pada sekarang ini. Tidak hanya pada sektor tenaga kerja saja, partisipasi perempuan kini lebih meningkat pada pemanfaatan peluang dalam dunia usaha bahkan tidak sedikit yang menjadi pengusaha. 

Seperti yang diungkapkan Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Stefan Koeberle dalam kolom Pelita Online.com, perempuan di Indonesia banyak yang menjadi pengusaha. Tidak itu saja, saat ini banyak perempuan menjadi lebih sadar akan hak hukum mereka karena pelatihan paralegal di pedesaan. Dengan begitu, harapan terhadap peningkatan kesetaraan gender bisa memotivasi produktivitas dan hasil pembangunan untuk generasi mendatang. Kemajuan pesat perempuan dalam partisipasi dunia kerja saat ini menunjukkan bahwa kedudukan perempuan menjadi sangat penting bagi kemajuan sebuah bangsa.

Dunia kerja ataupun dunia usaha pada era globalisasi merupakan tuntutan perkembangan jaman bagi umat manusia. Persaingan dan perlombaan untuk mendapatkan keinginan pemenuhan kebutuhan hidup, sudah menjadi sesuatu yang tidak terelakkan lagi. Artinya, manusia selalu menginginkan sesuatu yang lebih baik dalam mencapai taraf kehidupannya menuju pada cita-cita yang sejahtera, hidup di atas rata-rata.

Dengan meningkatnya peluang kerja maupun usaha bagi perempuan tentunya akan membawa nilai positif bagi pembangunan, tetapi ada dampak negatif yang tidak bisa dipungkiri seperti pemanfaatan perempuan sebagai alat mencapai tujuan melebihi batas-batas nilai hak asasi manusia yang seharusnya dijunjung dan dihormati.

Dalam beberapa waktu terakhir, banyak perempuan tersandung masalah di dunia kerja. Ekspolitasi yang berlebihan terhadap kemampuan perempuan, disalahgunakan hingga berujung pada muncul tindak pidana demi keadilan seperti mencuatnya kasus Tenaga Kerja Perempuan yang disiksa dan dijadikan budak seks oleh oknum yang tidak berperikemanusiaan (lihat kasus TKI yang terjadi di Arab Saudi, Malaysia dan Singapore).

Hal ini disadari sebagai bentuk kekhilafan kita semua, baik itu pemerintah, swasta dan masyarakat. Oleh karenanya, pemanfaatan Sumber Daya Perempuan dalam dunia kerja maupun usaha harusnya dibarengi dengan pemberian pembekalan maupun peningkatan kemampuan terhadap ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. Seperti yang diungkapkan Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Stefan Koeberle, meningkatnya pembangunan Indonesia saat ini disebabkan oleh partisipasi perempuan yang sadar akan hak hukumnya. 

Tentu kita bangga dengan apresiasi Koeberle yang tidak serta merta mudah mengatakan hal tersebut, kita tahu betul itu ada datanya. Karenanya, tidak perlu terlena dengan pernyataan positif Koeberle, apresiasi perlu, tetapi kerja keras dalam usaha mewujudkan pekerja perempuan Indonesia yang intelek adalah modal negara mengawal kesetaraan gender dan partisipasi perempuan dalam pembangunan. 

Kita yakin, semakin maju dan inteleknya perempuan Indonesia, setiap kekerasan yang terjadi pada perempuan tentu akan menimbulkan konsekwensi yang besar. Dengan demikian, jangan pernah berharap, khususnya oknum-oknum yang mengeksploitasi perempuan bisa tertawa lepas ketika melakukan pelanggaran hukum. Jerat dan sanksi sudah menanti anda.

Rabu, 09 November 2011

Nilai Kepahlawanan di Silang Zaman


Gambar ilustrasi oleh : dhekawe.multiply.com
Kata orang bijak, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Menilik ungkapan tersebut, jika ditarik dalam sejarah berdirinya NKRI, merekalah yang berjuang membebaskan bangsa ini dari cengkeraman penjajah orang-orang eropa yang tinggi besar. Dan kita tahu, tidak satu jengkalpun, mereka mundur meskipun itu dengan bambu runcing. Atas jasa mereka, sekarang kita bisa hidup di alam merdeka, bisa menikmati pembangunan, menikmati hidup di negara yang gemah ripah loh jinawi, meskipun itu tidak sempurna seperti yang dibayangkan. 

Kini, di era serba modern dan maju, kita sebagai pemuda dan generasi penerus bangsa, tentu mempunyai tanggung jawab akan kelangsungan hidup negara. Mau dibawa kemana bangsa ini, kitalah yang menentukan dan sebagai orang yang hidup di jaman ini, menghargai jasa para pahlawan dan jandanya adalah keharusan yang mutlak. Jangan ada lagi tangis yang terdengar. Tidak ada alasan apapun lagi, kita menelantarkan mereka.

Jikalau kewajiban itu sudah terlaksana dengan baik, saatnya sekarang menatap masa depan. Apa yang bisa kita buat untuk menciptakan pahlawan-pahlawan berikutnya bagi anak cucu kita.

Kita tidak harus berjuang mengangkat senjata lagi, tapi bagaimana mengangkat pemikiran yang bisa memajukan bangsa, berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa besar. Transfer nilai patriotisme yang digelorakan para pahlawan pada jamannya, ada baiknya ditularkan hingga menciptakan kepedulian bagi kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.

Tidak usah jauh-jauh bagaimana caranya menciptakan dan menggelorakan jiwa patriotisme kepahlawanan. Kepedulian dan kewaspadaan akan bahaya korupsi, kolusi dan nepotisme bisa menjadi salah satu tujuan dari mana sekarang kita mulai menjejakkan kaki melangkah pasti untuk berjuang mengentaskan penyakit jahanam tersebut.

Khusus yang mempunyai karir di PNS, TNI/POLRI, swasta atau berkarir di tempat lain, yuk mulai sekarang kita tinggalkan sistem yang korup. Pandangan atau mindset yang (negatif egoism culture) selama ini telah mencederai keadilan harus kita sadari. Karena sejatinya, pandangan tersebut sangat merusak tatanan keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan bernegara. Perbuatan seperti melabelkan seorang yang berseberangan pemikiran menjadi oposisi, ketakutan terhadap perbuatan makar seseorang dalam suatu organisasi, kekhawatiran timbulnya brutus-brutus baru adalah sesuatu yang bukan jamannya lagi.

Sudah saatnya pula kita tinggalkan sistem dan pandangan yang mengutamakan rasa personalitas, kedekatan, keuntungan dan tuntutan diluar jangkauan kemampuan rata-rata biaya hidup. Singsikan lengan dan baju untuk sama-sama hidup sederhana dan cukup. 

Membuang rasa dendam kesumat pribadi kini menjadi tantangan, lalu bagaimana kita bisa menerapkan aspek pendidikan disetiap sendi-sendi kehidupan sejak usia dini, adalah sebuah usaha yang sangat suci.

Mengutamakan intelektualitas, prestasi dan tanggung jawab, sekarang menjadi tujuan perjuangan kita sebagai genarasi penerus perjuangan dan cita-cita para pahlawan yang berani mati demi RI merdeka.Kitalah sekarang sebagai pemeran utama, kitalah yang sedang berjuang bukan berleha-leha. 

Kita harus waspada terhadap tipuan-tipuan hidup yang bisa menyesatkan langkah perjuangan. Tipuan hidup yang bisa merenggangkan hubungan pertemanan. Tipuan hidup yang bisa memutus tali silaturrahmi sesama saudara. Tipuan hidup yang bisa membuat cakar mencakar. Tipuan hidup yang bisa menimbulkan dendam kesumat seperti kisah Ken Arok atau tipuan hidup yang maunya menang sendiri, sukanya menyalahkan orang lain, senangnya menyudutkan teman, bawahan, staf hingga pimpinan. 

Sekali saja terjebak, seterusnya bangsa ini bergelimang kebusukan moral. Mau lepas ? seratus tahun belum tentu itu tergapai. Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita meninggalkan kenangan manis buat anak cucu kita dan kelangsungan RI yang digjaya.

Selamat Hari Pahlawan..

Sabtu, 29 Oktober 2011

Bali Ndeso

Menempuh perjalanan dari kota Semarang kurang lebih 50 km kearah utara, tersebutlah sebuah desa yang masih belum terjamah pembangunan. Mutih Kulon, orang biasa memanggilnya terletak di Kabupaten Demak Kecamatan Wedung adalah sebuah desa yang asri nan sejuk udaranya. Desa yang secara geografis dilalui sungai-sungai besar, persawahan yang begitu luas dan laut pantai utaranya yang terkenal.

Potensi yang demikian besar, sayangnya belum dikelola secara maksimal untuk pembangunan desa. Alhasil pembangunan desa ala kadarnya menunggu guyuran anggaran dan kebaikan hati pemimpin yang mungkin masih ingat akan desanya.

Berbicara mata pencarian, sebagian besar mata pencarian penduduknya adalah petani dan nelayan. Melihat tenang dan damainya desa ini, sungguh sangat kontras jika menilik infrastruktur dan banyaknya kaum muda yang bermigrasi ke kota-kota besar. Alhasil, kebanyakan penduduknya adalah generasi tua.

Kehidupan desa senantiasa memegang teguh prinsip ajaran agama Islam. Adat isitiadat yang dipegang teguh merupakan ajaran turun temurun sejak berdirinya Kerajaan Demak yang melahirkan Islam sebagai keyakinan dan dibawa oleh seorang ulama terkenal, Kanjeng Sunan Kalijaga. Bahkan sampai saat ini segala sendi kehidupan masyarakatnya sangat kental dengan nuansa agama Islam.

Mutih Kulon secara geografis masuk dalam wilayah Kabupaten Demak. Namun, lalulintas perekonomian masyarakatnya cenderung berinteraksi dengan Kabupaten Jepara. Jarak yang membatasi wilayah Kabupaten Demak dan Kabupaten Jepara hanya dipisahkan oleh dua buah sungai besar. Padahal bila dilihat potensi lalulintas perekonomiannya, ditaksir dapat menjadi pemasukan kas daerah bagi pembangunan wilayah itu.

Secara kasat mata pembangunan infrastruktur Desa Mutih Kulon banyak yang mengalami kerusakan dan pecah-pecah. Bila musim kemarau tiba, jalanan menjadi licin karena batu-batu kecil banyak berserakan di jalan. Sedangkan bila musim hujan tiba, jalanan menjadi kubangan air dan berbahaya bagi pengendara. Belum lagi dengan fasilitas infrastruktur lainnya seperti jembatan penyeberang sungai yang dibuat apa adanya.

Seperti salah satu jembatan yang sering disebut jembatan sasak. Jembatan ini terbuat dari batang pohon kelapa tanpa penahan dan pengaman. Jembatan dibuat hanya dengan cara mengikatkan satu batang pohon kelapa dan bambu yang sudah di bentuk sedemikian rupa. Memiliki lebar satu setengah meter dan panjang lebih kurang enam puluh meter, bila hujan akan menjadi sangat licin. Tidak jarang bila ada pengemudi sepeda motor yang berbonceng, maka yang dibonceng akan turun menghindari jatuh dan kecebur sungai, pun begitu jembatan hanya bisa dilewati bergantian.

Selain tidak luas, jembatan tersebut hanya bisa dilewati kendaraan beroda dua, sedangkan untuk roda empat harus memutar lebih jauh dengan waktu tempuh bisa mencapai kurang lebih tiga puluh menit. Itupun dilalui hanya bisa bergiliran karena jembatan didesain cukup untuk satu ukuran mobil passenger car.

Pemeliharaan jembatan sasak menurut pengakuan warga yang sering lewat, dikutip oleh petugas sebesar lima ratus rupiah setiap kali penyeberangan yang berlaku dari pagi hingga sore. Baik dari Kabupaten Demak ke Kabupaten Jepara ataupun sebaliknya. Begitu pentingnya lalulintas perekonomian, kebanyakan masyarakat tidak keberatan dipungut biaya untuk pemeliharaan jembatan.

Di akui atau tidak, jalur di mana jembatan ini berada merupakan jalur sutra yang menghubungkan Kabupaten Demak dan Kabupaten Jepara. Mengingat jarak yang ditempuh sangat dekat, maka jembatan menjadi strategis sebagai urat nadi perekonomian masyarakat Mutih Kulon. Apalagi segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan masyarakat Mutih Kulon tersedia di Kabupaten Jepara. Lain halnya dengan Kabupaten Demak, waktu yang ditempuh cukup jauh. Dengan melewati area persawahan dan beberapa kecamatan serta jalan desa, barulah masyarakat bisa ke pusat kota untuk dapat memenuhi keperluannya.

Menurut beberapa sesepuh desa, arus lalulintas perekonomian masyarakat Mutih Kulon sebenarnya sangat menjanjikan dan diperkirakan dapat menjadi pemasukan kas daerah yang berpotensi meningkatkan pembiayaan pembangunan desa. Sayangnya pemanfaatannya tidak di gunakan semaksimal mungkin.

Harapan yang tak terlalu muluk-muluk, semoga pasca pemilu kelak, pembangunan desa menjadi prioritas dan diperjuangkan bagi mereka yang terpilih. Sejatinya, ketika anak desa ‘bali ndeso’, niscaya akan merasa bangga dan betah tinggal di desanya. Tidak ada lagi yang namanya ramai-ramai mencari peruntungan di kota. Pun sudah saatnya pemerataan pembangunan harus dilakukan, jangan lagi beri ruang kesenjangan pembangunan, ketimpangan perekonomian dan ketidak seimbangan yang selama ini berorientasi ke kota-kotaan. Saatnya pemimpin yang terpilih berani mengambil tantangan dan saatnya pula pengusaha menerima tantangan berinvestasi di desa.

Sungguh indah membayangkan bila desa maju seperti kota.

Rabu, 14 September 2011

Seransum Makan Siang

Seransum makan siang menemani dirinya berangkat kerja. Panganan bikinan sang istri tersebut sedianya dihidangkan saat waktu jam makan siang tiba, bukan saat tiba di kantor kemudian disantap segera. Tidak, tidak seperti itu.

Sebut saja Doni. Seorang pria berkeluarga dengan anak satu, sehari-harinya bekerja di sebuah unit kerja pemerintah. Saban senin sampai jum’at, Doni selalu berangkat kerja bersama istrinya, pegawai di salah satu instansi swasta. Rutinitas kegiatan, biasanya dimulai sejak pagi pukul 06.00. Dengan bermodalkan motor tua, Doni bersama istrinya berangkat kerja menyusuri kepadatan lalulintas dan bernasib sama dengan pengendara lainnya. Selalu terjebak kemacetan dan selalu begitu berulang-ulang. Riak-riak keringat tanda kepanasan, disekatnya perlahan-lahan. Sepasang muda-mudi ditepi jalan, tak luput memandangnya dengan nanar. Melihat semangatnya yang tinggi, boleh dibilang semangat pantang menyerah bahkan lekat dalam ingatan seperti semangat ‘45 pejuang tempo dulu.

Demi menyiasati pengeluaran ongkos yang besar, Doni dan istrinya tiap hari berboncengan. Panas dan hujan, perubahan cuaca yang mendadak serta aneka rupa wewangian di jalan menjadi santapannya berulang-ulang. Benar memang, dengan berkendaraan berdua, banyak penghematan dilakukan. Selain itu, nyaman meski berdebu dan berpegal pinggang. Jauh dari tangan jahil yang menyesaki kendaraan umum. Boleh dibilang, anti pelecehan. Terhadap yang satu ini, Doni bisa bernafas lega ketimbang istrinya menumpang bus.

Doni bukanlah type pria yang banyak makan. Belakangan, setelah lebaran nafsu makannya kian meningkat tajam. Keinginan makan yang banyak, diakuinya tidak datang dari pembawaan. Teman-teman dikantornyalah yang menjadi perangsang nafsu makannya kian menjulang. Betapa tidak, menurutnya seisi ruangan penuh dengan makan. Akhirnya Donipun ketularan.

Saat tiba makan siang, ransum makanpun dibuka. Didahului dengan doa, Doni kemudian memandang ransumnya yang berisikan butiran nasi yang membumbung tinggi makin indah dengan hiasan bertahta ikan, sayuran, sambal kentang dan tempe.

Untuk tempe, Doni selalu tidak ketinggalan. Sekeping tempe pasti dicarinya hingga ke pojok warteg, jika panganan tersebut tidak tersedia di meja makan. Kecanduannya terhadap tempe tidak bisa dihilangkan. Seperti beberapa waktu yang lalu, saat harga kedelai naik, Doni termasuk orang yang meradang. Maklum, kedelai merupakan bahan baku salah satu makanan yang bernama tempe. Tempe selesai, urusan perut selesai, begitu mungkin di dalam benak pikirannya.

Ransum yang dibawanya kini siap untuk disantap. Layaknya orang yang selesai olahraga, makan siang cepat selesai disantap Doni. Tanpa sedikitpun tersisa. Ingatannya melayang kepada nasihat bundanya agar membiasakan menghabiskan makan. “Jangan sampai tersisa. Kasian !,” mengenang pesan bundanya.

Selesai makan, segelas air diburunya dengan dengan segera. “Banyak-banyak minum air putih,” ujarnya. Selidik punya selidik, kebiasaan Doni membawa air putih banyak, ternyata terkait dengan kesehatan. Katanya, untuk melarutkan makanan agar mudah cerna dan menetralkan zat yang terkandung di dalam makanan.

Jumat, 26 Agustus 2011

Kecrek Usang dan si Budi Kecil

Ilustrasi
Sebut saja Budi. Usianya masih belia, tapi tangan kekarnya terus mengayun “kecrek”, sebuah alat musik sederhana rakitan tangan yang kreatif, buatan siapa, tidak ada seorangpun yang mengerti. Kecrek yang terbuat dari limbah tutup botol atau biasa disebut dengan “kerop” dengan apitan batangan patahan kayu tidak teratur, biasa menemani pengamen jalanan di seputaran kota besar di Indonesia.

Cukup dengan delapan buah kerop yang sudah diratakan dengan palu, kemudian dibagi menjadi dua bagian, masing-masing bagian berjumlah empat buah dan ditempelkan pada sebuah potongan patahan kayu, dengan jepitan tiga buah paku, kecrek sudah berfungsi seperti yang diinginkan sang pemain. Kecrek sudah bisa menghasilkan bunyi, mengiringi lagu bait per bait yang dilantunkan untuk menghibur calon pendengar.

Kecrek bisa menjadi alat yang sakti. Sakti bukan sembarang sakti. Dengan kecrek, uang bisa datang menghampiri, persis yang diinginkan sang empunya. Tapi dengan catatan, hentakan kecrek harus padu dengan lagu agar terdengar merdu mendayu. Jika tidak, jangan harap uang datang, makian dan cacian silih bergantir mampir meskipun dihati. Belum lagi kerutan wajah pendengar yang tidak suka, wajah yang bisa berbentuk prisma menyerupai segilima dalam ilmu aljabar.

Kecrek si Budi adalah gambaraan seorang seniman jalanan. Budi kecil tidak peduli dengan sekolah. Sekolah, katanya mahal. Budi malah mengajarkan bagaimana mencari uang. Budi menunjukkan bagaimana mendapatkan uang, apa itu peluh dan serak suara. Budi sudah kadung sakit hati. Budi sering menghela nafas, saat melihat anak seusianya berdandan rapi, pergi mencari ilmu ditemani papi dan mami.

Budi kecil terdiam melamun dengan topang dagu. Dua tangannya masih erat menggenggam kecrek. Pengalaman di jalan membuatnya berpikir matang. Berpikir bertahan hidup dan berpikir mengobati emaknya yang sakit.

Dilahirkan dalam keluarga yang tak mampu, Budi kecil tidak bisa berdiam diri. Dia pergi pagi, pulang selepas maghrib. Perempatan lampu merah menjadi tempat tujuannya. Dengan luas 2000 meter persegi, perempatan lampu merah, habis disinggahi kaki kecilnya yang kekar. Gurat mimik wajahnya, menunjukkan si Budi tekun dan teliti. Bernyanyi adalah bidang yang dikuasai, meskipun sering menyanyikan lagu yang sedang hits, Budi kecil mengakui, hanya dengar dari radio usang milik kakaknya.

Budi kecil tiada ragu menyanyi, dihapal dan difasihkannya lagu sambil menghayati. Kecrek kesayangannya, mampu menemani hati si Budi. Dari suara dan kecreknya, mengalirlah uang pemberian hati baik sang pendengar. Merasa terhibur, sang pendengar bahkan mengajaknya makan. Budi kecil senang bukan kepalang dan banyak cerita pengalamannya kepada sang pendengar.

Itulah kisah Budi dan kecrek di tahun 2000. Tahun Millenium, kata orang.

Kamis, 25 Agustus 2011

Wajah Renta di Tepian Selatan Jakarta

Ilustrasi : firabas.multiply.com
Pagi hari, saat matahari mulai meninggi, dan pekerja sibuk berangkat menuju tempat bekerja, dua sosok renta dengan senyum simpul, menjejak kaki ke bumi mengharap bisa mengais rejeki. Menjajakan delapan lembar papan penggilesan (papan cucian) yang terbuat dari kayu berjenis pohon nangka, sosok renta di usia senja tersebut, setia menunggu pembeli yang tertarik, hilir mudik lewat di depan wajahnya.

Sang Kakek yang menggunakan topi caping, menggengam erat gerobak tuanya, duduk menatap lirih seakan melawan panasnya mentari. Sementara sang Nenek dengan kerudung lusuh, berdiri tidak jauh dari sang Kakek, menemaninya menjajakan papan cucian. Tiada satu patah katapun yang keluar dari bibir mereka, layaknya orang menjajakan dagangannya. Kakek dan nenek itu, hanya diam dan menatap lirih seraya berharap ada orang yang menghampiri.

Dua sosok renta bukan sembarang sosok. Dua sosok renta berdiri tegar, menantang sulitnya mencari sesuap nasi. Dua sosok renta yang berani dan bertaruh, seakan menunjukkan kepada pengguna jalan, kalaulah mereka tidak kalah mengusahakan dapur terus ngebul. Panas dan Hujan, sudah pasti jadi hal yang biasa. Dan, yang menjadi luar biasa adalah saat mereka menjajakan dagangannya di depan rumah gedong di bilangan komplek perumahan elite, Selatan Jakarta.

Banyak pertanyaan terekam dalam otak pengguna jalan. Melihat gerobak dengan delapan lembar papan cucian tebal dan berat setiap harinya, dengan gerobak ala kadarnya, “Mungkinkah mereka  sanggup mendorong ?”, “Mungkinkan mereka sanggup mengangkat ?”, atau “Tahukah kita, bila lokasi tempat menjajakan dagangan jauh dari rumah ?”, “Lantas, kemana putra-putri mereka ?”, atau “Tegakah si pembuat papan cucian menyerahkannya kepada kakek nenek itu ?”

Sungguh, masih menjadi sebuah misteri. Misteri karena setiap pagi, sang kakek dan nenek hadir absensi persis di depan garasi rumah berteras tinggi.

Sebuah kompleks perumahan yang dihuni kaum papan atas menjadi saksi bisu melihat aktifitas dua sosok renta disetiap pagi hari. Sebuah kenyataan pula, dan hampir mustahil jika pengguna jalan yang lewat, menebak penghuni rumah gedong itu masih menggunakan papan cucian. Sebuah keniscayaan pula, bagaimana pengguna jalan tertarik membelinya. Sebuah keanehan jika pengguna jalan mampir membeli, bisa jadi malu dianggap kampungan oleh teman sekerja. “Jaman Era digital teknologi, kok masih pakai papan cuci ?” (Begitu keluhnya, dalam hati).

Rabu, 24 Agustus 2011

Penaikan Harga Menjelang Lebaran

Menjelang lebaran, semua publik cukup mahfum bagaimana roda ekonomi bergerak cepat. Inflasi oleh penaikan harga berbagai kebutuhan barang maupun jasa tidak bisa dihindarkan. Publikpun sepakat, semua ini disebabkan oleh meningkatnya konsumsi kebutuhan masyarakat menyambut hari raya, dan beberapa hal yang menjadi perhatian salah satunya adalah pemenuhan kebutuhan sembako untuk kehidupan sehari-hari.

Ilustrasi oleh : gaguna.blogspot.com
Sembako, merupakan sebuah singkatan yang pernah mencuat saat Indonesia diprediksi memasuki era tinggal landas dan ketika terjadi krisis ekonomi saat tahun 1998 lalu. Sembilan bahan pokok (sembako) menjadi lekat dengan kebutuhan masyarakat kala itu. Padahal sejatinya, sembako sejak pra kemerdekaan maupun sekarang ya itu-itu saja. Sembako menjadi sesuatu yang sangat mahal dan mewah. Bahkan masih lekat dalam ingatan, ketika itu nilai tukar dolar menyentuh angka Rp. 16.000,- dari sebelumnya Rp. 2.500,-, sembako menjadi sulit digapai masyarakat ekonomi lemah.

Meskipun perekonomian Indonesia mengalami peningkatan, tren penaikan sembako tetap saja terjadi. Apalagi khusus pada momen-momen tertentu seperti lebaran. Sepertinya rumusan tentang hukum penawaran “semakin tinggi permintaan barang/jasa, maka semakin tinggi pula harga barang/jasa tersebut”, adalah rumus abadi dan mustahil rasanya ada penurunan. Dampak dari penaikan permintaan ini tentu saja memicu penaikan harga barang/jasa. 

Tidak aneh memang, tapi yang paling membuat kesal adalah kelakuan oknum yang memanfaatkan penaikan tersebut untuk mencari untung besar seperti menimbun barang, menahan laju pengeluaran barang, untuk kemudian produk yang lama dan sudah tidak diminati, ikut berebut keluar pasar. Modus seperti produk barang yang hampir kedaluwarsa, bahkan sudah habis masa expired-nya sering dilakukan oknum untuk mencari keuntungan ditengah hingar bingar meningkatnya kebutuhan masyarakat.

Tidak hanya sembako yang melonjak harganya, pemanfaatan kendaraan angkutan massal untuk lebaranpun tidak kalah sengitnya naik tajam. Belum lagi, penaikan tiket kendaraan pengangkutan seperti Bus AKAP, Pesawat Terbang atau mungkin Kapal Fery yang mengambil selisih angka di atas 100% bahkan 200% pada saat momen lebaran.

Tentu saja, bagi yang mampu dan terpenuhinya kesejahteraan tidak mengapa, lalu bagaimana dengan yang tidak ? Dia harus berhutang, kemudian bekerja mencari tambahan hanya sekedar untuk bisa pulang kampung. Situasi seperti ini kemudian memancing fenomena sosial masyarakat lainnya. 

Coba tengok setiap sudut jalan, berapa banyak saudara kita yang mengemis dengan beragam cara, menempati ruang dan waktu di sudut kota. 

Kemudian, meningkatnya jumlah tindakan kriminal yang dilatarbelakangi emosional sesaat demi kebutuhan lebaran dan banyaknya orang yang tidak sanggup memikul beban ekonomi, alias stres. Lalu apa yang terjadi ? Apakah akan timbul pula hukum sebab akibat, yang kuat dialah yang survive, who knows ?

Menghadapi situasi seperti ini, pemerintahpun tak kalah sigap. Jauh-jauh hari mengumumkan stok persedian barang menjelang lebaran cukup dan aman. Tiket pemberangkatan untuk mudik dan kepulangan pemudik sudah disediakan dalam jumlah besar seperti kereta api dan pesawat. Untuk bus, lain lagi. Penaikan tiket bus sementara masih malu-malu untuk menaikkan. 

Contoh kecinya saja, untuk bisa menggunakan jasa bus yang mengantar pemudik hingga tempat tujuan, dibeberapa terminal bersedia menerima pembayaran dengan menggunakan sistem down payment dan tidak mau cash. Tetapi anehnya, harga tiket sudah diberitahu dengan bahasa lisan akan naik. Penaikkannya, untuk tujuan wilayah Jawa Tengah saja hampir mencapai 200 %. Saat dikonfirmasi kepada petugas, mereka hanya menjawab menunggu dari kantor.

Untuk penaikkan tiket, memang diakui pemerintah menetapkan ambang batas atas dan ambang batas bawah. Tujuannya adalah untuk harga kewajaran dari operasional dan keuntungan pengusaha pengangkutan. Namun demikian, tidak jarang ditemukan kasus penyimpangan aturan yang ditetapkan oleh pemerintah, dan lagi-lagi, masyarakat yang dibebankan.

Meski demikian, regulasi ya regulasi, aturan harus ditegakkan. Untuk yang satu ini, publik yakin, pemerintah tidak mau berkompromi dan menindak tegas oknum yang merugikan masyarakat. Kita percaya, pemerintah bisa melakukannya dan berbuat yang terbaik bagi masyarakat. Kita sepakat, siapaun juga tidak akan mentolerir perbuatan melawan hukum, apapun itu, meski dengan alasan menutup pembiayaan operasional usaha pengangkutan. Termasuk, penaikan harga barang dan mungkin juga kelangkaan barang. Terhadap ini semua, pemerintah sudah tahu langkah apa yang harus diperbuat. Jangan sampai momen lebaran yang suci menjadi tercoreng oleh ulah segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab.

Minggu, 21 Agustus 2011

Mudik Nyaman, Tanggung Jawab Bersama

Fitri yang berarti Fitrah

Sebulan setelah ibadah puasa, umat muslim diseluruh dunia merayakan hari raya Iedhul Fitri atau biasa dikenal dengan lebaran. Sesuai dengan maknanya, Iedhul Fitri, berarti kembali fitrah dan bersih, seperti kertas putih polos, siap untuk diisi tinta perbuatan pasca menjalani ibadah bulan suci ramadhan. Hari kemenangan ini, kemudian menjadi entry point ke depan perubahan perilaku sehari-hari pasca menjalani ibadah puasa sebulan penuh. Tentu, implementasi dari ibadah selama ramadhan ini diuji apakah berhasil atau tidak.

Jika dikaitkan dengan nilai disiplin dalam hidup, tentu semangat lebaran diharapkan membawa perilaku umat ke dalam tatanan nilai hukum kehidupan menjadi lebih baik. Semangat tertib dan disiplin yang nampak saat bulan ramadhan harus biasa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk di dalamnya adalah cerdas hukum saat mudik.

Istilah Mudik

Mudik, entah dari mana jenis kata ini muncul, kini menjadi kiasan bagi kaum urban untuk pulang kampung. Mengutip budayawan betawi Ridwan Saidi, mudik berasal dari kata udik yang berarti kampung, nagari di Padang atau gampoeng di Aceh. Istilah ini menjadi populer sejak era 1980 an ke atas para transmigran yang berasal dari Pulau Jawa, pulang kampung setelah lebaran.

Meminjam istilah transmigran, saat itu penduduk pulau Jawa jauh lebih besar dari pulau-pulau lainnya yang ada di Indonesia. Melalui kebijakan pemerintah, untuk mencegah ledakan penduduk dengan sempitnya lahan, transmigrasi menjadi pilihan utama menangani dampak sosial dari jumlah penduduk yang meningkat. Disamping itu, sebagai program pemerataan penduduk, usaha ini dianggap mampu merekat wawasan kebangsaan bagi pemerintah Indonesia.

Perlahan dan pasti, kini istilah mudik semakin lekat mengental disetiap momentum lebaran. Para perantau yang mencoba peruntungan nasib di Ibukota selama bertahun-tahun, tidak pernah kehabisan selera untuk kembali pulang ke kampung halamannya. Tujuannya tidak lain adalah bersilaturrahmi, bertemu dengan orang yang dikasihi.

Silaturrahmi

Nilai silaturrahmi menjadi ibadah yang sangat disukai Tuhan Sang Pencipta. Dengan tetap menjalin silaturrahmi, ibadah ini diyakini dapat membuka pintu rejeki dan memperpanjang umur orang yang melakukannya. Banyak sekali manfaat silaturrahmi yang bisa diraih bagi umat, seperti menumbuhkan rasa kasih sayang, nilai kekerabatan adat terjaga, saling membagi dan masih banyak lainnya.

Intinya adalah, silaturrahmi merupakan pengikat persaudaraan sesama manusia sehingga bisa melakukan fungsi kehidupannya masing-masing. Agama Islam mengajarkan kepada umatnya untuk terus menjaga tali silaturrahmi. Sampai-sampai diriwayatkan para sahabat, bahwa Nabi Muhammad SAW diberitahukan oleh Allah, agar manusia jika marah terhadap saudaranya jangan lebih dari tiga hari. Di luar ketetapan tersebut, maka yang diraih adalah nilai kerugian bagi manusia itu sendiri.

Terhadap makna silaturrahmi ini, bagi para kaum urban mempunyai arti yang sangat penting. Dengan berkumpul dan bertemu orang yang dikasihi, silaturrahmi bisa menumbuhkan semangat saling peduli.

Mudik yuk !

Sebagai bentuk perhatian terhadap fenomena mudik, yang hanya ada di Indonesia, pemerintah bersama instansi terkait, bahu membahu mensukseskan hajatan besar warganya. Menurut data dari berbagai Kementerian dan Lembaga Swadaya Masyarakat, jumlah pemudik dari tahun ke tahun terus bertambah. Pertambahan jumlah pemudik dimaklumi, mengingat meningkatnya daya beli masyarakat di hari Lebaran.

Tidak itu saja, gelaran hajatan ini juga memunculkan dampak sosial lainnya seperti tren penaikan angka kriminalitas. Dari penipuan, hipnotis hingga perampokkan, kerap menghantui para pemudik yang hendak bersilaturrahmi dengan keluarganya. Gangguan terhadap kenyamanan mudik, tentu oleh pemerintah menjadi perhatian tersendiri. Dinas atau instansi terkait berpadu sibuk mengatur kelancaran arus mudik. Layanan tambahan yang diberikan kepada masyarakat menjadi nilai kinerja yang patut diberikan apresiasi.

Namun begitu, kelancaran terhadap arus mudik tidak hanya menjadi tugas kewajiban para pemangku kepentingan tetapi juga menjadi tugas pemudik untuk berpartisipasi mensukseskan hajatan tersebut.

Jangan sampai perilaku ugal-ugalan mengemudi di jalan menjadi hambatan. Pengemudi kendaraan harus tertib di jalan. Mematuhi rambu lalulintas dan marka jalan menjadi kewajiban setiap pengguna kendaraan sebagaimana diatur dalam UU No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Sedangkan bagi pemudik yang menggunakan bus, kereta api maupun pesawat dan kapal laut, prinsip kehati-hatian harus diutamakan, jangan lengah dan mudah tergoda terhadap orang tak dikenal. Banyak kejadian kriminal saat tahun-tahun sebelumnya, kasus hipnotis menjadi kasus yang sering memakan korban. Awalnya ramah, kemudian memberikan makanan atau minuman, tidak tahunya telah dicampur senyawa kimia (obat bius). Dampak yang ditimbulkan tentu bisa merugikan pemudik itu sendiri.

Oleh karenanya, semua pihak termasuk kita harus senantiasa waspada terhadap dampak negatif sisi lain mudik. Jangan sampai niat menguatkan nilai silaturrahmi berujung pada kerugian. Menjaga keamanan dan kenyaman mudik merupakan tanggung jawab bersama.

Selamat Hari Raya Raya Lebaran
Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin

Kami Pribadi dan Keluarga

Rabu, 17 Agustus 2011

Warna warni Ritual Mudik

Ilustrasi
Lebaran masih menyisakan dua minggu lagi, namun gaungnya sudah menyebar ke seluruh umat muslim yang menjalankan ibadah puasa. Terlebih lagi umat muslim perantauan, yang akan melaksanakan ritual mudik berlebaran bersama orang yang dikasihi di kampung halaman. Kumpul bersama keluarga besar di tempat kelahiran, menjadi kelebihan sendiri untuk merasakan kebahagiaan bersama-sama.

Coba tengok di salah satu blog komunitas di satu daerah. Beberapa bloger memberikan statement-nya tentang mudik, seperti di bawah ini ;

“karena lebaran hari yg sangat istimewa buat umat muslim, kita bisa bertemu sodara2x yg lain dan juga temen2x kita dulu. Dan kita juga bisa bersilahturahmi dan saling maaf-maaf an. Karena hanya lebaran momen yg tepat dan kalo lebaran bisa pulang kampung kan suatu perjuangan banget. Bayangin harga tiket bis naik, macet dan harus sedia dana yg buuuuuuayak buat angpau (biasa setahun sekali).”

“Walaupun butuh perjuangan tapi ritual mudik sudah menjadi kebiasaan bagi perantau utuk bisa merayakan lebaran bersama keluarga & termasuk moment yg tepat untuk sungkem sama orang tua.”

“Untuk mengobati rasa kangen dengan orang tua, saudara saudara, tetangga tetangga, teman sekolah, suasana desa, makanan khas desa dan yang paling penting sowan ke orang tua,karena orang tua akan merasa senang anak2 nya bisa kumpul di hari raya.”

“Moment ketemu dengan orang-orang atau individu yang punya hubungan historis dengan kehidupan kita di waktu yang silam adalah moment yang nggak bisa di hitung dengan nominal saat kita mudik lebaran”.


Yah benar sekali, mudik menjadi ritual terkait erat dengan lebaran. Istilah mudik menurut Bahasa Indonesia adalah pulang kampung. Tradisi ini tidak diketahui persis kapan munculnya. Tradisi ini terjadi akibat dari proses akulturasi berbagai nilai kehidupan adat dan budaya asal kampung halaman seperti, tanda bakti anak kepada orang tua, sejarah hidup dan nilai-nilai agama, sosial maupun budaya, menjadi pelengkap kenapa ritual mudik menjadi tradisi.

Mudik, selain bisa dilihat dari kacamata sejarah, bisa juga dilihat dari sisi pernik-pernik pengalaman selama perjalanan, lengkap dengan informasi dan variasi-nya. Dan berbicara perjalanan biasanya tak lepas dari momok yang namanya macet. Kondisi ini timbul akibat dari menumpuknya jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan jalan, marka jalan yang rusak, rambu lalulintas yang mati, jalanan yang rusak, tidak tertibnya pengguna jalan hingga pasar tumpah telah menjadi ciri khas tersendiri saat mudik. 

Yang menjadi repot kemudian adalah jajaran kepolisian dan pemerintah mengatur kelancaran perjalanan pemudik selamat sampai tujuan. Meski banyak kekurangannya, sudah semestinya pemudik juga berpartisipasi ikut melancarkan perjalanan mudik. Taat terhadap aturan maupun rambu lalulintas juga menjaga emosi dengan kesabaran sebenarnya sangat membantu tugas polisi dan pemangku kepentingan lainnya.

Dari sisi ekonomi, mudik menjadi sarana berputarnya roda ekonomi dengan banyak mengalirnya uang. Gerak ekonomi semakin cepat dengan banyaknya permintaan. Sebagaimana hukum ekonomi, makin banyak permintaan maka harga yang ditawarkan menjadi mahal. 

Coba tengok, jenis barang apa yang tidak naik selama menjelang musim mudik. Belum lagi harga tiket moda angkutan baik itu darat, laut dan udara. Artinya, musim mudik menjadi momen yang tepat untuk menangguk untung. Hal ini bukanlah menjadi hal yang berlebihan selama negara masih menerapkan pasar bebas.

Anehnya, kenaikan yang meningkat tajam bukan menjadi penghalang untuk tetap mudik bersama keluarga yang disayangi. Yang menjadi ketiban pulung adalah pengusaha yang wajib membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada karyawannya. Belum lagi di sisi sepanjang perjalanan mudik juga menjadi warna tersendiri, seperti menjamurnya bengkel dadakan, tempat makan dan rehat, asongan, sampai jasa urut tidak ketinggalan mendapat kecipratan rejeki dari pemudik.

Dari segi keamanan, sebenarnya pemudik menjadi sasaran empuk penjahat untuk melakukan aksinya. Sebut saja seperti pemudik yang terbius setelah meminum atau memakan makanan dari seseorang yang tidak dikenalnya. Perampasan, pencopetan bahkan kejahatan seperti perampokan menjadi sesuatu yang perlu diwaspadai oleh pemudik. Sebab kenapa menjadi sasaran, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi kalau pemudik biasanya banyak membawa uang dan perhiasan untuk keluarganya di kampung. Modus ini bisa dibaca oleh siapapun termasuk penjahat yang ingin mengambil untung sesaat. Memang, ini merupakan bagian dari tugas kepolisian tetapi alangkah baiknya jika pemudik hati-hati dan waspada jangan sampai lengah. Kejahatan datang bukan karena niat tapi karena ada kesempatan, begitu kata salah satu tokoh di sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Setiap pemudik ingin sekali perjalanan mudiknya nyaman. Aspek yang satu ini sesungguhnya sangat penting tetapi di saat waktu menjadi sempit dan pemudik tidak mendapatkan moda angkutan, kenyamanan menjadi tidak lagi yang di damba. Yang terpikir adalah bagaimana bisa pulang kampung dan terangkut pulang meskipun berdesak-desakan dan sekujur badan penuh dengan peluh. 

Untungnya dengan memperhatikan kejadian-kejadian sebelumnya, para pemangku kepentingan baik pemerintah maupun pengusaha membantu pemudik dengan program mudik gratis. Untuk yang satu ini, pengusahalah bintangnya. Tak terhitung, banyak juga pengusaha yang menyediakan mudik gratis bagi karyawannya. Sedangkan pemerintah biasanya menambah armada untuk membawa pemudik yang tidak terangkut. Kenyamanan tetap menjadi faktor utama bagi pengusaha sebagai bagian dari rasa perhatian dan bentuk apresiasi dari pengabdian karyawannya.

Benar, mudik menjadi ciri khas yang unik bagi Indonesia yang rakyatnya banyak merantau baik itu dari luar maupun dalam negeri. Mudik akan menjadi bermakna jika dilakukan dengan perhitungan yang matang. Patuhi rambu lalulintas, perhatikan tanda dan penunjuk jalan dan perhatikan juga kesiapan kendaraan selama dalam perjalanan. Tidak melulu kewajiban dari pemerintah yang mengatur kelancaran mudik tetapi juga menjadi keharusan bagi pemudik. Nilai kepedulian dan kesabaran harus ditanamkan sejak dini, dan menjadi ajang tempat pengujian ibadah selama bulan puasa. Jika semua yang berkepentingan peduli, niscaya tradisi mudik menjadi menyenangkan dan pengalaman yang tak terlupakan.

Selasa, 16 Agustus 2011

Fenomena Stiker Pada Kendaraan Bermotor

Fenomena banyaknya pengguna kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, yang menunjukkan eksistensi suatu organisasi yang mapan, kelompok tertentu yang punya massa atau berisikan himbauan hal-hal positif, bahkan kalimat ejekan atau bernada provokatif, dengan menempelkan tanda khusus atau ciri-ciri tertentu pada bagian kendaraan, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi.

Pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor ditenggarai menghilangkan kenyamanan berkendaraan. Rasa aman dan nyaman menjadi hal yang sangat mahal, apalagi perilaku kendaraan umum yang ugal-ugalan, lengkap sudah permasalahan yang mendera masyarakat khususnya di bidang transportasi.


Khusus di wilayah Jakarta dan kota penyangga di sekitarnya, pesatnya pertumbuhan kendaraan diyakini bisa membuat hilang rasa nyaman berkendaraan dari sebagian pengguna kendaraan bermotor itu sendiri. Tentu menimbulkan dampak yang tidak kecil. Salah satunya adalah kesalahpahaman dan bisa terjadi kapan saja tanpa diduga sebelumnya.

Masalah keamanan, belakangan ini menjadi faktor yang sangat penting bagi masyarakat. Dengan terjaminnya keamanan, masyarakat berharap aktivitas sehari-hari menjadi lancar tanpa gangguan yang berarti. Disamping keamanan, kenyamanan dalam berkendaraan, juga kesalahpahaman diantara pengguna jalan akibat tidak tertibnya di jalan, bisa mempengaruhi kualitas kinerja dan tujuan yang ingin dicapai.

Nah, berharap dapat mengantisipasi permasalahan tersebut, pada tataran di lapangan, masyarakat cenderung bersikap mencari cara yang efektif dan tidak melanggar ketertiban umum. Salah satu cara yang dilakukan adalah menandai kendaraan bermotor dengan tanda khusus tertentu.

Mengenai tanda khusus, biasanya banyak macam bentuknya, stiker, jaket, baju dan lain-lainnya. Khusus untuk tanda stiker, media yang digunakan agar terlihat ciri khusus tersebut biasanya kaca pada mobil bagian belakang dan sparkboard maupun samping kanan dan kiri pada sepeda motor bagian belakang. Tujuannya sudah tentu bisa ditebak bahwa si empunya kendaraan bermotor adalah bagian atau anggota dari sebuah organisasi maupun komunitas itu sendiri.

Bagi yang melihat tentunya akan menjadi pertimbangan tersendiri ketika berhadapan dengan si empunya kendaraan manakala ada kesempatan berinteraksi baik langsung maupun tidak langsung. Dengan kenyataan seperti ini, diharapkan orang yang membaca dianggap tahu dan akibatnya timbul rasa sungkan untuk membuat masalah. Selain itu, tanda khusus tersebut bisa menjadi ciri khas kendaraan yang dimiliki

Seperti diketahui pada umumnya, ketika pengendara baik roda dua maupun roda empat ketika keluar dari rumah menuju tempat yang dituju, otomatis berlaku melekat UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan. Tujuannya sederhana, untuk ketertiban dan kenyamanan di jalan. Mau tidak mau, aturan ini harus dipatuhi. Karena sejatinya, setiap orang dianggap tahu hukum ketika aturan itu diterbitkan oleh pemerintah. Semuanya kembali untuk kepentingan bersama.


Dengan melihat begitu pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor sekarang ini, ada semacam rasa apatisme terhadap disiplin di jalan. Terbukti, kesadaran pengguna kendaraan bermotor untuk tertib dijalan masih sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya survey yang dilakukan lembaga independen, bahwa angka kecelakaan kendaraan bermotor dari tahun ke tahun meningkat.

Kekhawatiran ini bukannya tanpa alasan, jika melihat fakta di lapangan, kecelakaan terjadi bermula dari tidak tertibnya pengguna kendaraan bermotor itu sendiri. Maka tidak heran, sering terjadi kesalahpahaman hingga menimbulkan percekcokan bahkan sampai perkelahian diantara sesama pengendara bermotor. Belum termasuk faktor keamanan dari sasaran kejahatan.

Kondisi ini bisa membuat masyarakat mencoba mencari jati diri dengan berkelompok, salah satu diantaranya dengan membentuk organisasi atau komunitas kendaraan bermotor. Sayangnya, manfaat yang dihasilkan dari pengaruh stiker tersebut hanya bersifat lebih banyak melindungi kepentingan individu dan kelompoknya saja. Bisa ditebak stiker digunakan hanya untuk kepentingan si pengemudi agar terhindar dari kesalahpahaman maupun sasaran kejahatan di jalan.

Pamer stiker di kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat menjadi fenomena tersendiri lika-likunya keramaian lalulintas. Gejala ini mewabah sejak rasa keamanan dan kenyamanan menjadi sesuatu yang langka untuk diwujudkan.

Berangkat dari sini, dituntut peran yang lebih besar dari aparat yang berwenang. Polisi dalam hal ini, tidak bisa tinggal diam untuk mengurai benang permasalahan lalulintas. Peranan polisi yang begitu besar diharapkan dapat memberikan pengaruh gejala negatif yang terjadi di masyarakat.

Terkait penggunaan stiker yang marak belakangan ini, seharusnya polisi tidak bisa tinggal diam. Walaupun terlihat sepele, namun bukan tak mungkin kota kita akan menjadi kota stiker. Penggunaan stiker yang bukan pada tempatnya dipastikan dapat menimbulkan gesekan antar pengguna kendaraan. Dari rasa egoisme, provokatif dan ajakan, stiker pada umumnya hanya dapat membuat orang yang membacanya bingung. Sudah saatnya pelaksanaan ketertiban di jalan umum dilakukan sedari masalah yang paling kecil, baru kemudian yang lebih besar.

Senin, 15 Agustus 2011

THR dan Transfer Nilai Kemanusiaan

Sketsa oleh : firmanjaya.wordpress.com
Bercerita saat menjelang lebaran tak sedap rasanya jika tidak menengok satu asa yang dinanti setiap pekerja, yaitu Tunjangan Hari Raya atau biasa disebut dengan THR. Harapan menjadi besar ketika ramadhan segera berakhir dan lebaran kian mendekat. Rasa optimis dan keyakinan menyelimuti seluruh pekerja di berbagi sektor kerja tak terkecuali penulis sendiri.

Menakertrans jauh-jauh hari mengatakan, pemberian THR oleh perusahaan wajib hukumnya, bahkan H-7 paling lambat sudah bisa diberikan kepada pekerja. Maklumat yang disiarkan melalui running text di sebuah stasiun televisi swasta menjadi tanda begitu perhatiannya pemerintah terhadap nasib pekerja menjelang lebaran. Belum lagi, posko pengaduan yang dibuka oleh pemerintah maupun LSM terhadap perusahaan yang tidak mengindahkan anjuran yang dimaksud. Hal ini dilakukan demi kemanusiaan, hak pekerja untuk mendapatkannya dan kewajiban perusahaan untuk membayarnya.

Memang diakui, THR lekat dengan hari raya atau lebaran sebagai penghargaan terhadap dedikasi dan loyalitas pekerja kepada perusahaan sekaligus suka cita kemenangan bagi umat muslim setelah melaksanakan puasa selama sebulan. Setelahnya, sesama umat saling silaturrahmi dan memberi. 

Maklum, kebanyakan pekerja di negeri yang muslimnya mencapai 90%, adalah ciri khas tersendiri yang tidak terbantahkan. Permakluman demikian juga melekat kepada setiap pekerja yang telah lama mengabdi pada perusahaan dan kantor-kantor swasta maupun pemerintah.

Kepedulian terhadap sesama mendadak menyebar bak virus, entah itu pekerja, pengusaha maupun pemerintah. Seakan menahbiskan betapa besar arti kepedulian sesama umat, implementasi kepedulian diwujudkan dalam beragam hal kesejahteraan untuk pekerja. Salah satunya adalah pemberian tunjangan hari raya atau THR.

THR dikemas dalam berbagai bentuk tapi biasanya pekerja lebih mengharapkan dalam bentuk nilai. Hal ini menjadi alasan karena kemudahan dan praktis juga dapat dimanfaatkan sesuai selera pekerja. THR diberikan sebagai bentuk dari apresiasi pengabdian pekerja kepada pengusaha. Nilai dan besarannya disesuaikan dengan kemampuan keuangan setiap perusahaan.

Hadirnya lebaran makin memperat hubungan silaturrahmi antara pengusaha dan pekerja. Hubungan kerja terjalin erat dan sehat. Tiada kata yang keluar seindah dan sehalus di hari lebaran. Hubungan timbal balik diharapkan menjadi modal berharga kemajuan perusahaan dan pekerja. Seperti apa hubungan timbal balik itu, hanya nilai-nilai dan semangat ramadhan-lah yang bisa menjawab. Namun demikian, tidak menjadikan satu hal yang pesimis antara pekerja dan pengusaha di luar semangat lebaran. Transfer nilai dan semangat harus dipacu dan dieksplorasi untuk mewujudkan kesejahteraan yang hakiki.

Minggu, 14 Agustus 2011

Pak Mamat : "Merdeka !"

Berjalan menyusuri pinggir jalan raya besar di tengah terik matahari, seorang lelaki tua tampak terengah-engah menghela nafas dan mencoba mengumpulkan tenaga. Nampak raut mukanya bergurat setengah menengadah, seakan menunjukkan dirinya mampu mendorong sebuah gerobak sederhana penuh muatan. Di usianya yang senja, ia tetap semangat meski peluh membasahi raut wajahnya, bahkan tubuhnya, lelaki tua itu tidak menghiraukannya.

Sebut saja Pak Mamat, lelaki baya itu adalah salah satu dari penjual bendera keliling tahunan. Bermodal gerobak kecil dan uang hasil pinjaman, Pak Mamat mencoba peruntungan menjual bendera dan umbul-umbul untuk keperluan peringatan hari kemerdekaan ke masyarakat. Bila melihat apa yang dijajakannnya, terpampang banyak ragam dan rupa, juga corak jualannya. Semuanya didominasi warna merah putih, maklum tujuh belasan sudah dekat.

Setapak dua tapak dia berusaha melempar senyum, sambil menawarkan dagangannya kepada pejalan kaki dan pengendara motor. Hingga membawanya pada kelokan sebuah gang, dan tanpa ampun, Pak Mamat  berteriak lantang menawarkan bendera dan umbul-umbul termasuk lima belas batang bambu untuk keperluan Agustusan. Tanpa dinyana, dua anak kecil datang mendekat melihat-lihat bendera Pak Mamat. Melihat calon konsumennya anak kecil, Pak Mamat segera beraksi dengan membawakan cerita dibumbui lawakan kecil tentang perjuangan pendahulu kita di masa lalu.

Sejurus kemudian, anak-anak serius mendengarkan Pak Mamat. Sesekali mereka tertawa mendengar ceritanya. Ulah Pak Mamat, kontan membuat orang tua mereka menghampiri bermaksud membeli, seraya mengeluarkan beberapa uang recehan kecil demi si buah hati. Dengan cekatan, Pak Mamat kemudian mengambil bendera yang dipilih dan membantu mengikatkannya pada sebuah batang bambu.

Anak-anakpun riang bukan kepalang. Kini, mereka punya bendera untuk dikibarkan di beranda depan rumahnya. Tak ketinggalan pula, senyum mengembang dari orang tua mereka. Melihat tingkah anak kecil tersebut, Pak Mamat takjub dan menitikkan air mata. Dipandanginya bendera yang terpasang tanpa henti, seakan ada sesuatu yang membawanya ke alam lain. Pak Mamat-pun bahagia, benderanya terjual, kemudian sambil berdoa bisa mendapat rejeki disisa setengah hari libur, bulan puasa tahun 2011.

Dalam asanya, Pak Mamat ingin sekali membagi sedikit kebahagiannya kepada orang lain. Sulitnya hidup akibat biaya ekonomi tinggi membuat Pak Mamat terus berjuang banting tulang. Tak peduli berapa yang didapatnya, dia tetap semangat menggelorakan makna perjuangan saat masa kemerdekaan. Meskipun dirinya tidak sebaik nasib orang pada umunya, Pak Mamat masih sempat memikirkan pinjaman yang harus dilunaskannya, syukur-syukur ada sisa sekedar dapur bisa ngebul.

"Merdeka !" pekik Pak Mamat semangat.

Jumat, 12 Agustus 2011

Arti Pentingnya Seorang Pembantu Rumah Tangga

Ilustrasi oleh : SwaIklan.com
Sosok pembantu rumah tangga (PRT) dewasa ini sudah seperti menjadi darah daging dalam kehidupan keluarga suami istri yang sibuk bekerja di kota besar. Kontinuitas pekerjaan dengan beragam kesibukannya sering menghinggapi pasangan suami istri yang bekerja. Tidak dipungkiri, pekerjaan rumah tangga sehari hari terancam menjadi terbengkalai. Melihat kondisi seperti ini, tentunya akan menjadi persoalan serius bagi pasangan suami istri yang bekerja yang dampaknya tentu bisa menggangu ritme pekerjaan bahkan kehidupan rumah tangga.

Perkara pekerjaan rumah tangga sedianya adalah kewajiban pasangan suami istri. Sekarang tugas itu dipercayakan pada PRT, mulai dari urusan beres-beres rumah hingga mengasuh anak. Coba tengok saja, untuk urusan beres-beres rumah mungkin suatu hal yang lazim, tetapi bicara mengasuh anak, apalagi anak yang diasuh masih balita sebenarnya sangat bertentangan dengan nurani pasangan suami istri. Kenyataan yang terjadi dalam pekerjaan membuat pasangan suami istri tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya tidak juga dikatakan pasrah, demi alasan kelangsungan hidup ekonomi rumah tangga mau tidak mau suka tidak suka pasangan suami istri yang bekerja tetap mencari jalan keluar agar semua aktivitas kerumahtanggaan dan pekerjaan tetap terjaga.

Menilik begitu beratnya aktivitas rumah dan kantor sehari-hari yang dilakukan hampir bersamaan akhirnya menjadi ujian bagi pasangan suami istri yang bekerja. Suka dan duka pasti menjadi menu sehari-hari. Dari rasa kecocokkan dengan PRT sampai bagaimana PRT mengerti tugas yang diberikan kepadanya sehari-hari acapkali menjadi menu yang tiada habis dibahas. Meskipun begitu, terkadang pasangan suami istri merasa prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan. Terlebih lagi jauh dari kampung halaman. Padahal sejatinya mereka sama sebagai orangtua dari anak-anaknya, meski nasib yang membedakan. Namun demikian sikap saling menghormati dan menghargai terhadap tugas masing-masing harus terus dikembangkan. Berdasarkan pertimbangan demikian, biasanya pasangan suami istri kerap mencari PRT yang mempunyai referensi dari orang-orang terdekat.

Tidak menjadi suatu hal yang aneh, model (referensi) macam ini menjadi andalan bagi pasangan suami istri. Maksudnya tak lain dan tak bukan adalah menghindarkan diri dari sesuatu yang tidak diinginkan. Sebut saja, belakangan ini marak kejahatan di perumahan berkedok pembantu. Apalagi pembantu yang dipekerjakan tidak diketahui secara persis asal usulnya. Ketenangan pasangan suami istri pekerja menjadi taruhan yang sangat mahal. Walaupun mahal ongkosnya, model referensi menjadi favorit pasangan suami istri mencari wakilnya untuk mengurusi pekerjaan rumah dan mengasuh anak. Biasanya prinsip yang dikedepankan berdasarkan pada kedekatan keluarga.

Lain halnya dengan PRT yang berasal dari penyalur atau agen. Memang model ini lebih profesional dan cekatan meskipun ongkos yang dikeluarkan sangat profesional juga. Bagi pasangan suami istri yang kerap menggunakan jasa PRT ini biasanya ekstra waspada dan agak ketat. Kalau perlu dibuatkan perjanjian kerja. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, mengingat ketiadatahuan asal-usul individu dan sifat pembawaannya. Benar, disalurkan dari agen yang terkenal sekalipun, namun sejatinya kenyamanan dan ketenangan belum sepenuhnya milik pasangan suami istri.

Dilema masalah tentang PRT akan terasa gaungnya, lebih-lebih menjelang lebaran. Menjadi maklum, lebaran adalah kesempatan bagi mereka pulang kampung bertemu dengan keluarga tercintanya. Meskipun setahun sekali, momen seperti lebaran menjadi harapan mereka agar diperkenankan pulang oleh majikan. Biasanya, majikan manapun pasti mengabulkan sepanjang mereka sepakat dengan janji kapan kembali lagi. Itupun kalau mereka menepati janji.

Sering dijumpai, mereka tidak kembali dengan berbagai alasan. Tidak melulu karena tidak kerasan, kadang-kadang yang kerasan dan merasa cocok dengan majikannyapun tidak kembali. Hal ini menjadi dilematis majikan ketika mendengar kabar sang pembantu tidak kembali. Perasaan kecewa dan pusing bercampur baur menjadi satu. Apalagi telah menemukan pembantu yang cocok. Mau tidak mau akhirnya sang majikan kembali mencari pembantu yang baru dengan permasalahan yang sama. Teruus begitu setiap tahunnya. Fenomena yang tak lekang saat lebaran.

PRT dan majikan bagai dua keping mata uang yang senantiasa hidup di suatu negara meskipun maju dan sejahtera.

Naik Kereta Api..Tut..Tuut..Tuuut


Suaranya keras dan bergetar, bentuknya panjang dengan kaki berbentuk bulat terbuat dari baja. Sebuah realita menggambarkan moda transportasi yang bernama kereta api. Moda ini banyak digemari masyarakat, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, kaum perempuan maupun laki-laki, tua dan muda, semuanya pernah merasakan moda transportasi yang ramah lingkungan ini.

Sedikit kita menengok sejarah perkeretapian ke belakang, menurut literatur yang dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_perkeretaapian_di_Indonesia, sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai dari pembangunan jalan kereta api di desa Kemijen, Jumat tanggal 17 Juni 1864, oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan jalur sendiri diprakarsai oleh "Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij" (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Keberhasilan swasta, NV. NISM membangun jalan kereta api Semarang-Tanggung, kemudian mendorong minat investor membangun jalan kereta api sepanjang 110 km yang menghubungkan kota Semarang - Surakarta, tepatnya pada tanggal 10 Februari 1870. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh dengan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 menjadi 110 km, tahun 1880 mencapai 405 km, tahun 1890 menjadi 1.427 km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 km.

Pembangunan jalan kereta api terus mengalami peningkatan, tidak hanya di Pulau Jawa, tapi juga hingga ke Pulau Sumatera, seperti di di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar-Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang-Maros belum sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan kereta api Pontianak - Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, juga pernah dilakukan studi pembangunan jalan kereta api.

Melihat sejarahnya yang begitu menakjubkan, tidak salah jika meningkatnya pembangunan jalan kereta api, disebabkan karena perannya  sangat membantu mobilisasi kepentingan masyarakat. Diyakini, animo masyarakat terhadap kereta api tidak pernah lekang dimakan jaman, meskipun itu sudah melampui tujuh turunan generasi masyarakat penggunanya.

Kini, di jaman globalisasi yang serba modern, kereta api semakin mengukuhkan diri dengan perannya sangat vital bagi masyarakat. Tengok saja, hajatan besar pulang kampung (mudik). Setiap tahunnya keinginan masyarakat untuk menggunakan kereta api terus mengalami peningkatan. Seperti yang dikatakan Direktur Keselamatan Transportasi Darat Kementerian Perhubungan, Hotman Simanjuntak dalam harian berita elektronik http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/08/11/brk,20110811-351332,id.html, jumlah pemudik masa lebaran tahun 2011 diperkirakan mencapai 15,5 juta orang, naik 4,17 persen dari tahun 2010 yang berjumlah 14,9 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebesar 2,9 juta penumpang diprediksi menggunakan kereta api.

Tidak salah kiranya, kereta api menjadi andalan masyarakat yang ingin pulang kampung. Seperti yang terjadi pertengahan bulan Juli kemarin, pemesanan tiket untuk berbagai tujuan di daerah Jawa telah habis terjual, baik yang kelas ekonomi, bisnis maupun eksekutif. Meskipun demikian, PT KAI sebagai pihak yang mengurusi kereta api terus melakukan penambahan layanan jual tiket, termasuk memberantas calo tiket. Untuk yang satu ini, komitmennya masih terus dipertanyakan masyarakat. Banyaknya tiket habis terjual, diduga ulah calo yang menyamar menjadi calon penumpang. 

Operasi penertiban terus dilakukan, meski yang tertangkap tidak banyak, calo tiket diakui susah untuk diberantas, apalagi ada dugaan keterlibatan oknum. Namun demikian, apapun ceritanya, masyarakat sepertinya tidak terlalu peduli terhadap ulah calo tersebut. Buat mereka, yang penting dapat tiket pulang kampung, walau itu harus menginap sehari semalam di stasiun. Padahal kepedulian masyarakat bisa membantu meminimalisir calo tiket untuk melakukan aksinya.

Layaknya sebuah cerita, hajatan besar atau yang biasa disebut mudik, membawa kisah tersendiri bagi masyarakat, khususnya pengguna kereta api. Harga tiket mahal, melebihi seratus persen, penipuan, hipnotis, calo tiket dan kejahatan lainnya adalah sebuah episode suka dan duka masyarakat yang telah jatuh cinta dengan moda yang namanya kereta api, seperti lagunya, “Naik Kereta Api..Tut..Tuut..Tuuut..Siapa Hendak Turut”