Rabu, 17 Agustus 2011

Warna warni Ritual Mudik

Ilustrasi
Lebaran masih menyisakan dua minggu lagi, namun gaungnya sudah menyebar ke seluruh umat muslim yang menjalankan ibadah puasa. Terlebih lagi umat muslim perantauan, yang akan melaksanakan ritual mudik berlebaran bersama orang yang dikasihi di kampung halaman. Kumpul bersama keluarga besar di tempat kelahiran, menjadi kelebihan sendiri untuk merasakan kebahagiaan bersama-sama.

Coba tengok di salah satu blog komunitas di satu daerah. Beberapa bloger memberikan statement-nya tentang mudik, seperti di bawah ini ;

“karena lebaran hari yg sangat istimewa buat umat muslim, kita bisa bertemu sodara2x yg lain dan juga temen2x kita dulu. Dan kita juga bisa bersilahturahmi dan saling maaf-maaf an. Karena hanya lebaran momen yg tepat dan kalo lebaran bisa pulang kampung kan suatu perjuangan banget. Bayangin harga tiket bis naik, macet dan harus sedia dana yg buuuuuuayak buat angpau (biasa setahun sekali).”

“Walaupun butuh perjuangan tapi ritual mudik sudah menjadi kebiasaan bagi perantau utuk bisa merayakan lebaran bersama keluarga & termasuk moment yg tepat untuk sungkem sama orang tua.”

“Untuk mengobati rasa kangen dengan orang tua, saudara saudara, tetangga tetangga, teman sekolah, suasana desa, makanan khas desa dan yang paling penting sowan ke orang tua,karena orang tua akan merasa senang anak2 nya bisa kumpul di hari raya.”

“Moment ketemu dengan orang-orang atau individu yang punya hubungan historis dengan kehidupan kita di waktu yang silam adalah moment yang nggak bisa di hitung dengan nominal saat kita mudik lebaran”.


Yah benar sekali, mudik menjadi ritual terkait erat dengan lebaran. Istilah mudik menurut Bahasa Indonesia adalah pulang kampung. Tradisi ini tidak diketahui persis kapan munculnya. Tradisi ini terjadi akibat dari proses akulturasi berbagai nilai kehidupan adat dan budaya asal kampung halaman seperti, tanda bakti anak kepada orang tua, sejarah hidup dan nilai-nilai agama, sosial maupun budaya, menjadi pelengkap kenapa ritual mudik menjadi tradisi.

Mudik, selain bisa dilihat dari kacamata sejarah, bisa juga dilihat dari sisi pernik-pernik pengalaman selama perjalanan, lengkap dengan informasi dan variasi-nya. Dan berbicara perjalanan biasanya tak lepas dari momok yang namanya macet. Kondisi ini timbul akibat dari menumpuknya jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan jalan, marka jalan yang rusak, rambu lalulintas yang mati, jalanan yang rusak, tidak tertibnya pengguna jalan hingga pasar tumpah telah menjadi ciri khas tersendiri saat mudik. 

Yang menjadi repot kemudian adalah jajaran kepolisian dan pemerintah mengatur kelancaran perjalanan pemudik selamat sampai tujuan. Meski banyak kekurangannya, sudah semestinya pemudik juga berpartisipasi ikut melancarkan perjalanan mudik. Taat terhadap aturan maupun rambu lalulintas juga menjaga emosi dengan kesabaran sebenarnya sangat membantu tugas polisi dan pemangku kepentingan lainnya.

Dari sisi ekonomi, mudik menjadi sarana berputarnya roda ekonomi dengan banyak mengalirnya uang. Gerak ekonomi semakin cepat dengan banyaknya permintaan. Sebagaimana hukum ekonomi, makin banyak permintaan maka harga yang ditawarkan menjadi mahal. 

Coba tengok, jenis barang apa yang tidak naik selama menjelang musim mudik. Belum lagi harga tiket moda angkutan baik itu darat, laut dan udara. Artinya, musim mudik menjadi momen yang tepat untuk menangguk untung. Hal ini bukanlah menjadi hal yang berlebihan selama negara masih menerapkan pasar bebas.

Anehnya, kenaikan yang meningkat tajam bukan menjadi penghalang untuk tetap mudik bersama keluarga yang disayangi. Yang menjadi ketiban pulung adalah pengusaha yang wajib membayarkan Tunjangan Hari Raya (THR) kepada karyawannya. Belum lagi di sisi sepanjang perjalanan mudik juga menjadi warna tersendiri, seperti menjamurnya bengkel dadakan, tempat makan dan rehat, asongan, sampai jasa urut tidak ketinggalan mendapat kecipratan rejeki dari pemudik.

Dari segi keamanan, sebenarnya pemudik menjadi sasaran empuk penjahat untuk melakukan aksinya. Sebut saja seperti pemudik yang terbius setelah meminum atau memakan makanan dari seseorang yang tidak dikenalnya. Perampasan, pencopetan bahkan kejahatan seperti perampokan menjadi sesuatu yang perlu diwaspadai oleh pemudik. Sebab kenapa menjadi sasaran, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi kalau pemudik biasanya banyak membawa uang dan perhiasan untuk keluarganya di kampung. Modus ini bisa dibaca oleh siapapun termasuk penjahat yang ingin mengambil untung sesaat. Memang, ini merupakan bagian dari tugas kepolisian tetapi alangkah baiknya jika pemudik hati-hati dan waspada jangan sampai lengah. Kejahatan datang bukan karena niat tapi karena ada kesempatan, begitu kata salah satu tokoh di sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Setiap pemudik ingin sekali perjalanan mudiknya nyaman. Aspek yang satu ini sesungguhnya sangat penting tetapi di saat waktu menjadi sempit dan pemudik tidak mendapatkan moda angkutan, kenyamanan menjadi tidak lagi yang di damba. Yang terpikir adalah bagaimana bisa pulang kampung dan terangkut pulang meskipun berdesak-desakan dan sekujur badan penuh dengan peluh. 

Untungnya dengan memperhatikan kejadian-kejadian sebelumnya, para pemangku kepentingan baik pemerintah maupun pengusaha membantu pemudik dengan program mudik gratis. Untuk yang satu ini, pengusahalah bintangnya. Tak terhitung, banyak juga pengusaha yang menyediakan mudik gratis bagi karyawannya. Sedangkan pemerintah biasanya menambah armada untuk membawa pemudik yang tidak terangkut. Kenyamanan tetap menjadi faktor utama bagi pengusaha sebagai bagian dari rasa perhatian dan bentuk apresiasi dari pengabdian karyawannya.

Benar, mudik menjadi ciri khas yang unik bagi Indonesia yang rakyatnya banyak merantau baik itu dari luar maupun dalam negeri. Mudik akan menjadi bermakna jika dilakukan dengan perhitungan yang matang. Patuhi rambu lalulintas, perhatikan tanda dan penunjuk jalan dan perhatikan juga kesiapan kendaraan selama dalam perjalanan. Tidak melulu kewajiban dari pemerintah yang mengatur kelancaran mudik tetapi juga menjadi keharusan bagi pemudik. Nilai kepedulian dan kesabaran harus ditanamkan sejak dini, dan menjadi ajang tempat pengujian ibadah selama bulan puasa. Jika semua yang berkepentingan peduli, niscaya tradisi mudik menjadi menyenangkan dan pengalaman yang tak terlupakan.

Selasa, 16 Agustus 2011

Fenomena Stiker Pada Kendaraan Bermotor

Fenomena banyaknya pengguna kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, yang menunjukkan eksistensi suatu organisasi yang mapan, kelompok tertentu yang punya massa atau berisikan himbauan hal-hal positif, bahkan kalimat ejekan atau bernada provokatif, dengan menempelkan tanda khusus atau ciri-ciri tertentu pada bagian kendaraan, sudah bukan menjadi rahasia umum lagi.

Pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor ditenggarai menghilangkan kenyamanan berkendaraan. Rasa aman dan nyaman menjadi hal yang sangat mahal, apalagi perilaku kendaraan umum yang ugal-ugalan, lengkap sudah permasalahan yang mendera masyarakat khususnya di bidang transportasi.


Khusus di wilayah Jakarta dan kota penyangga di sekitarnya, pesatnya pertumbuhan kendaraan diyakini bisa membuat hilang rasa nyaman berkendaraan dari sebagian pengguna kendaraan bermotor itu sendiri. Tentu menimbulkan dampak yang tidak kecil. Salah satunya adalah kesalahpahaman dan bisa terjadi kapan saja tanpa diduga sebelumnya.

Masalah keamanan, belakangan ini menjadi faktor yang sangat penting bagi masyarakat. Dengan terjaminnya keamanan, masyarakat berharap aktivitas sehari-hari menjadi lancar tanpa gangguan yang berarti. Disamping keamanan, kenyamanan dalam berkendaraan, juga kesalahpahaman diantara pengguna jalan akibat tidak tertibnya di jalan, bisa mempengaruhi kualitas kinerja dan tujuan yang ingin dicapai.

Nah, berharap dapat mengantisipasi permasalahan tersebut, pada tataran di lapangan, masyarakat cenderung bersikap mencari cara yang efektif dan tidak melanggar ketertiban umum. Salah satu cara yang dilakukan adalah menandai kendaraan bermotor dengan tanda khusus tertentu.

Mengenai tanda khusus, biasanya banyak macam bentuknya, stiker, jaket, baju dan lain-lainnya. Khusus untuk tanda stiker, media yang digunakan agar terlihat ciri khusus tersebut biasanya kaca pada mobil bagian belakang dan sparkboard maupun samping kanan dan kiri pada sepeda motor bagian belakang. Tujuannya sudah tentu bisa ditebak bahwa si empunya kendaraan bermotor adalah bagian atau anggota dari sebuah organisasi maupun komunitas itu sendiri.

Bagi yang melihat tentunya akan menjadi pertimbangan tersendiri ketika berhadapan dengan si empunya kendaraan manakala ada kesempatan berinteraksi baik langsung maupun tidak langsung. Dengan kenyataan seperti ini, diharapkan orang yang membaca dianggap tahu dan akibatnya timbul rasa sungkan untuk membuat masalah. Selain itu, tanda khusus tersebut bisa menjadi ciri khas kendaraan yang dimiliki

Seperti diketahui pada umumnya, ketika pengendara baik roda dua maupun roda empat ketika keluar dari rumah menuju tempat yang dituju, otomatis berlaku melekat UU No. 22 tahun 2009 tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan. Tujuannya sederhana, untuk ketertiban dan kenyamanan di jalan. Mau tidak mau, aturan ini harus dipatuhi. Karena sejatinya, setiap orang dianggap tahu hukum ketika aturan itu diterbitkan oleh pemerintah. Semuanya kembali untuk kepentingan bersama.


Dengan melihat begitu pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor sekarang ini, ada semacam rasa apatisme terhadap disiplin di jalan. Terbukti, kesadaran pengguna kendaraan bermotor untuk tertib dijalan masih sangat rendah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya survey yang dilakukan lembaga independen, bahwa angka kecelakaan kendaraan bermotor dari tahun ke tahun meningkat.

Kekhawatiran ini bukannya tanpa alasan, jika melihat fakta di lapangan, kecelakaan terjadi bermula dari tidak tertibnya pengguna kendaraan bermotor itu sendiri. Maka tidak heran, sering terjadi kesalahpahaman hingga menimbulkan percekcokan bahkan sampai perkelahian diantara sesama pengendara bermotor. Belum termasuk faktor keamanan dari sasaran kejahatan.

Kondisi ini bisa membuat masyarakat mencoba mencari jati diri dengan berkelompok, salah satu diantaranya dengan membentuk organisasi atau komunitas kendaraan bermotor. Sayangnya, manfaat yang dihasilkan dari pengaruh stiker tersebut hanya bersifat lebih banyak melindungi kepentingan individu dan kelompoknya saja. Bisa ditebak stiker digunakan hanya untuk kepentingan si pengemudi agar terhindar dari kesalahpahaman maupun sasaran kejahatan di jalan.

Pamer stiker di kendaraan pribadi baik roda dua maupun roda empat menjadi fenomena tersendiri lika-likunya keramaian lalulintas. Gejala ini mewabah sejak rasa keamanan dan kenyamanan menjadi sesuatu yang langka untuk diwujudkan.

Berangkat dari sini, dituntut peran yang lebih besar dari aparat yang berwenang. Polisi dalam hal ini, tidak bisa tinggal diam untuk mengurai benang permasalahan lalulintas. Peranan polisi yang begitu besar diharapkan dapat memberikan pengaruh gejala negatif yang terjadi di masyarakat.

Terkait penggunaan stiker yang marak belakangan ini, seharusnya polisi tidak bisa tinggal diam. Walaupun terlihat sepele, namun bukan tak mungkin kota kita akan menjadi kota stiker. Penggunaan stiker yang bukan pada tempatnya dipastikan dapat menimbulkan gesekan antar pengguna kendaraan. Dari rasa egoisme, provokatif dan ajakan, stiker pada umumnya hanya dapat membuat orang yang membacanya bingung. Sudah saatnya pelaksanaan ketertiban di jalan umum dilakukan sedari masalah yang paling kecil, baru kemudian yang lebih besar.

Senin, 15 Agustus 2011

THR dan Transfer Nilai Kemanusiaan

Sketsa oleh : firmanjaya.wordpress.com
Bercerita saat menjelang lebaran tak sedap rasanya jika tidak menengok satu asa yang dinanti setiap pekerja, yaitu Tunjangan Hari Raya atau biasa disebut dengan THR. Harapan menjadi besar ketika ramadhan segera berakhir dan lebaran kian mendekat. Rasa optimis dan keyakinan menyelimuti seluruh pekerja di berbagi sektor kerja tak terkecuali penulis sendiri.

Menakertrans jauh-jauh hari mengatakan, pemberian THR oleh perusahaan wajib hukumnya, bahkan H-7 paling lambat sudah bisa diberikan kepada pekerja. Maklumat yang disiarkan melalui running text di sebuah stasiun televisi swasta menjadi tanda begitu perhatiannya pemerintah terhadap nasib pekerja menjelang lebaran. Belum lagi, posko pengaduan yang dibuka oleh pemerintah maupun LSM terhadap perusahaan yang tidak mengindahkan anjuran yang dimaksud. Hal ini dilakukan demi kemanusiaan, hak pekerja untuk mendapatkannya dan kewajiban perusahaan untuk membayarnya.

Memang diakui, THR lekat dengan hari raya atau lebaran sebagai penghargaan terhadap dedikasi dan loyalitas pekerja kepada perusahaan sekaligus suka cita kemenangan bagi umat muslim setelah melaksanakan puasa selama sebulan. Setelahnya, sesama umat saling silaturrahmi dan memberi. 

Maklum, kebanyakan pekerja di negeri yang muslimnya mencapai 90%, adalah ciri khas tersendiri yang tidak terbantahkan. Permakluman demikian juga melekat kepada setiap pekerja yang telah lama mengabdi pada perusahaan dan kantor-kantor swasta maupun pemerintah.

Kepedulian terhadap sesama mendadak menyebar bak virus, entah itu pekerja, pengusaha maupun pemerintah. Seakan menahbiskan betapa besar arti kepedulian sesama umat, implementasi kepedulian diwujudkan dalam beragam hal kesejahteraan untuk pekerja. Salah satunya adalah pemberian tunjangan hari raya atau THR.

THR dikemas dalam berbagai bentuk tapi biasanya pekerja lebih mengharapkan dalam bentuk nilai. Hal ini menjadi alasan karena kemudahan dan praktis juga dapat dimanfaatkan sesuai selera pekerja. THR diberikan sebagai bentuk dari apresiasi pengabdian pekerja kepada pengusaha. Nilai dan besarannya disesuaikan dengan kemampuan keuangan setiap perusahaan.

Hadirnya lebaran makin memperat hubungan silaturrahmi antara pengusaha dan pekerja. Hubungan kerja terjalin erat dan sehat. Tiada kata yang keluar seindah dan sehalus di hari lebaran. Hubungan timbal balik diharapkan menjadi modal berharga kemajuan perusahaan dan pekerja. Seperti apa hubungan timbal balik itu, hanya nilai-nilai dan semangat ramadhan-lah yang bisa menjawab. Namun demikian, tidak menjadikan satu hal yang pesimis antara pekerja dan pengusaha di luar semangat lebaran. Transfer nilai dan semangat harus dipacu dan dieksplorasi untuk mewujudkan kesejahteraan yang hakiki.

Minggu, 14 Agustus 2011

Pak Mamat : "Merdeka !"

Berjalan menyusuri pinggir jalan raya besar di tengah terik matahari, seorang lelaki tua tampak terengah-engah menghela nafas dan mencoba mengumpulkan tenaga. Nampak raut mukanya bergurat setengah menengadah, seakan menunjukkan dirinya mampu mendorong sebuah gerobak sederhana penuh muatan. Di usianya yang senja, ia tetap semangat meski peluh membasahi raut wajahnya, bahkan tubuhnya, lelaki tua itu tidak menghiraukannya.

Sebut saja Pak Mamat, lelaki baya itu adalah salah satu dari penjual bendera keliling tahunan. Bermodal gerobak kecil dan uang hasil pinjaman, Pak Mamat mencoba peruntungan menjual bendera dan umbul-umbul untuk keperluan peringatan hari kemerdekaan ke masyarakat. Bila melihat apa yang dijajakannnya, terpampang banyak ragam dan rupa, juga corak jualannya. Semuanya didominasi warna merah putih, maklum tujuh belasan sudah dekat.

Setapak dua tapak dia berusaha melempar senyum, sambil menawarkan dagangannya kepada pejalan kaki dan pengendara motor. Hingga membawanya pada kelokan sebuah gang, dan tanpa ampun, Pak Mamat  berteriak lantang menawarkan bendera dan umbul-umbul termasuk lima belas batang bambu untuk keperluan Agustusan. Tanpa dinyana, dua anak kecil datang mendekat melihat-lihat bendera Pak Mamat. Melihat calon konsumennya anak kecil, Pak Mamat segera beraksi dengan membawakan cerita dibumbui lawakan kecil tentang perjuangan pendahulu kita di masa lalu.

Sejurus kemudian, anak-anak serius mendengarkan Pak Mamat. Sesekali mereka tertawa mendengar ceritanya. Ulah Pak Mamat, kontan membuat orang tua mereka menghampiri bermaksud membeli, seraya mengeluarkan beberapa uang recehan kecil demi si buah hati. Dengan cekatan, Pak Mamat kemudian mengambil bendera yang dipilih dan membantu mengikatkannya pada sebuah batang bambu.

Anak-anakpun riang bukan kepalang. Kini, mereka punya bendera untuk dikibarkan di beranda depan rumahnya. Tak ketinggalan pula, senyum mengembang dari orang tua mereka. Melihat tingkah anak kecil tersebut, Pak Mamat takjub dan menitikkan air mata. Dipandanginya bendera yang terpasang tanpa henti, seakan ada sesuatu yang membawanya ke alam lain. Pak Mamat-pun bahagia, benderanya terjual, kemudian sambil berdoa bisa mendapat rejeki disisa setengah hari libur, bulan puasa tahun 2011.

Dalam asanya, Pak Mamat ingin sekali membagi sedikit kebahagiannya kepada orang lain. Sulitnya hidup akibat biaya ekonomi tinggi membuat Pak Mamat terus berjuang banting tulang. Tak peduli berapa yang didapatnya, dia tetap semangat menggelorakan makna perjuangan saat masa kemerdekaan. Meskipun dirinya tidak sebaik nasib orang pada umunya, Pak Mamat masih sempat memikirkan pinjaman yang harus dilunaskannya, syukur-syukur ada sisa sekedar dapur bisa ngebul.

"Merdeka !" pekik Pak Mamat semangat.

Jumat, 12 Agustus 2011

Arti Pentingnya Seorang Pembantu Rumah Tangga

Ilustrasi oleh : SwaIklan.com
Sosok pembantu rumah tangga (PRT) dewasa ini sudah seperti menjadi darah daging dalam kehidupan keluarga suami istri yang sibuk bekerja di kota besar. Kontinuitas pekerjaan dengan beragam kesibukannya sering menghinggapi pasangan suami istri yang bekerja. Tidak dipungkiri, pekerjaan rumah tangga sehari hari terancam menjadi terbengkalai. Melihat kondisi seperti ini, tentunya akan menjadi persoalan serius bagi pasangan suami istri yang bekerja yang dampaknya tentu bisa menggangu ritme pekerjaan bahkan kehidupan rumah tangga.

Perkara pekerjaan rumah tangga sedianya adalah kewajiban pasangan suami istri. Sekarang tugas itu dipercayakan pada PRT, mulai dari urusan beres-beres rumah hingga mengasuh anak. Coba tengok saja, untuk urusan beres-beres rumah mungkin suatu hal yang lazim, tetapi bicara mengasuh anak, apalagi anak yang diasuh masih balita sebenarnya sangat bertentangan dengan nurani pasangan suami istri. Kenyataan yang terjadi dalam pekerjaan membuat pasangan suami istri tidak bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya tidak juga dikatakan pasrah, demi alasan kelangsungan hidup ekonomi rumah tangga mau tidak mau suka tidak suka pasangan suami istri yang bekerja tetap mencari jalan keluar agar semua aktivitas kerumahtanggaan dan pekerjaan tetap terjaga.

Menilik begitu beratnya aktivitas rumah dan kantor sehari-hari yang dilakukan hampir bersamaan akhirnya menjadi ujian bagi pasangan suami istri yang bekerja. Suka dan duka pasti menjadi menu sehari-hari. Dari rasa kecocokkan dengan PRT sampai bagaimana PRT mengerti tugas yang diberikan kepadanya sehari-hari acapkali menjadi menu yang tiada habis dibahas. Meskipun begitu, terkadang pasangan suami istri merasa prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan. Terlebih lagi jauh dari kampung halaman. Padahal sejatinya mereka sama sebagai orangtua dari anak-anaknya, meski nasib yang membedakan. Namun demikian sikap saling menghormati dan menghargai terhadap tugas masing-masing harus terus dikembangkan. Berdasarkan pertimbangan demikian, biasanya pasangan suami istri kerap mencari PRT yang mempunyai referensi dari orang-orang terdekat.

Tidak menjadi suatu hal yang aneh, model (referensi) macam ini menjadi andalan bagi pasangan suami istri. Maksudnya tak lain dan tak bukan adalah menghindarkan diri dari sesuatu yang tidak diinginkan. Sebut saja, belakangan ini marak kejahatan di perumahan berkedok pembantu. Apalagi pembantu yang dipekerjakan tidak diketahui secara persis asal usulnya. Ketenangan pasangan suami istri pekerja menjadi taruhan yang sangat mahal. Walaupun mahal ongkosnya, model referensi menjadi favorit pasangan suami istri mencari wakilnya untuk mengurusi pekerjaan rumah dan mengasuh anak. Biasanya prinsip yang dikedepankan berdasarkan pada kedekatan keluarga.

Lain halnya dengan PRT yang berasal dari penyalur atau agen. Memang model ini lebih profesional dan cekatan meskipun ongkos yang dikeluarkan sangat profesional juga. Bagi pasangan suami istri yang kerap menggunakan jasa PRT ini biasanya ekstra waspada dan agak ketat. Kalau perlu dibuatkan perjanjian kerja. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan, mengingat ketiadatahuan asal-usul individu dan sifat pembawaannya. Benar, disalurkan dari agen yang terkenal sekalipun, namun sejatinya kenyamanan dan ketenangan belum sepenuhnya milik pasangan suami istri.

Dilema masalah tentang PRT akan terasa gaungnya, lebih-lebih menjelang lebaran. Menjadi maklum, lebaran adalah kesempatan bagi mereka pulang kampung bertemu dengan keluarga tercintanya. Meskipun setahun sekali, momen seperti lebaran menjadi harapan mereka agar diperkenankan pulang oleh majikan. Biasanya, majikan manapun pasti mengabulkan sepanjang mereka sepakat dengan janji kapan kembali lagi. Itupun kalau mereka menepati janji.

Sering dijumpai, mereka tidak kembali dengan berbagai alasan. Tidak melulu karena tidak kerasan, kadang-kadang yang kerasan dan merasa cocok dengan majikannyapun tidak kembali. Hal ini menjadi dilematis majikan ketika mendengar kabar sang pembantu tidak kembali. Perasaan kecewa dan pusing bercampur baur menjadi satu. Apalagi telah menemukan pembantu yang cocok. Mau tidak mau akhirnya sang majikan kembali mencari pembantu yang baru dengan permasalahan yang sama. Teruus begitu setiap tahunnya. Fenomena yang tak lekang saat lebaran.

PRT dan majikan bagai dua keping mata uang yang senantiasa hidup di suatu negara meskipun maju dan sejahtera.

Naik Kereta Api..Tut..Tuut..Tuuut


Suaranya keras dan bergetar, bentuknya panjang dengan kaki berbentuk bulat terbuat dari baja. Sebuah realita menggambarkan moda transportasi yang bernama kereta api. Moda ini banyak digemari masyarakat, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, kaum perempuan maupun laki-laki, tua dan muda, semuanya pernah merasakan moda transportasi yang ramah lingkungan ini.

Sedikit kita menengok sejarah perkeretapian ke belakang, menurut literatur yang dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_perkeretaapian_di_Indonesia, sejarah perkeretaapian di Indonesia dimulai dari pembangunan jalan kereta api di desa Kemijen, Jumat tanggal 17 Juni 1864, oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan jalur sendiri diprakarsai oleh "Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij" (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Keberhasilan swasta, NV. NISM membangun jalan kereta api Semarang-Tanggung, kemudian mendorong minat investor membangun jalan kereta api sepanjang 110 km yang menghubungkan kota Semarang - Surakarta, tepatnya pada tanggal 10 Februari 1870. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh dengan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 km, tahun 1870 menjadi 110 km, tahun 1880 mencapai 405 km, tahun 1890 menjadi 1.427 km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 km.

Pembangunan jalan kereta api terus mengalami peningkatan, tidak hanya di Pulau Jawa, tapi juga hingga ke Pulau Sumatera, seperti di di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar-Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang-Maros belum sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan kereta api Pontianak - Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, juga pernah dilakukan studi pembangunan jalan kereta api.

Melihat sejarahnya yang begitu menakjubkan, tidak salah jika meningkatnya pembangunan jalan kereta api, disebabkan karena perannya  sangat membantu mobilisasi kepentingan masyarakat. Diyakini, animo masyarakat terhadap kereta api tidak pernah lekang dimakan jaman, meskipun itu sudah melampui tujuh turunan generasi masyarakat penggunanya.

Kini, di jaman globalisasi yang serba modern, kereta api semakin mengukuhkan diri dengan perannya sangat vital bagi masyarakat. Tengok saja, hajatan besar pulang kampung (mudik). Setiap tahunnya keinginan masyarakat untuk menggunakan kereta api terus mengalami peningkatan. Seperti yang dikatakan Direktur Keselamatan Transportasi Darat Kementerian Perhubungan, Hotman Simanjuntak dalam harian berita elektronik http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/08/11/brk,20110811-351332,id.html, jumlah pemudik masa lebaran tahun 2011 diperkirakan mencapai 15,5 juta orang, naik 4,17 persen dari tahun 2010 yang berjumlah 14,9 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebesar 2,9 juta penumpang diprediksi menggunakan kereta api.

Tidak salah kiranya, kereta api menjadi andalan masyarakat yang ingin pulang kampung. Seperti yang terjadi pertengahan bulan Juli kemarin, pemesanan tiket untuk berbagai tujuan di daerah Jawa telah habis terjual, baik yang kelas ekonomi, bisnis maupun eksekutif. Meskipun demikian, PT KAI sebagai pihak yang mengurusi kereta api terus melakukan penambahan layanan jual tiket, termasuk memberantas calo tiket. Untuk yang satu ini, komitmennya masih terus dipertanyakan masyarakat. Banyaknya tiket habis terjual, diduga ulah calo yang menyamar menjadi calon penumpang. 

Operasi penertiban terus dilakukan, meski yang tertangkap tidak banyak, calo tiket diakui susah untuk diberantas, apalagi ada dugaan keterlibatan oknum. Namun demikian, apapun ceritanya, masyarakat sepertinya tidak terlalu peduli terhadap ulah calo tersebut. Buat mereka, yang penting dapat tiket pulang kampung, walau itu harus menginap sehari semalam di stasiun. Padahal kepedulian masyarakat bisa membantu meminimalisir calo tiket untuk melakukan aksinya.

Layaknya sebuah cerita, hajatan besar atau yang biasa disebut mudik, membawa kisah tersendiri bagi masyarakat, khususnya pengguna kereta api. Harga tiket mahal, melebihi seratus persen, penipuan, hipnotis, calo tiket dan kejahatan lainnya adalah sebuah episode suka dan duka masyarakat yang telah jatuh cinta dengan moda yang namanya kereta api, seperti lagunya, “Naik Kereta Api..Tut..Tuut..Tuuut..Siapa Hendak Turut”

Rabu, 10 Agustus 2011

Kisah Pak Tua dan Limbah Kantung Terigu


Ilustrasi oleh :
http://m.today.co.id/index.php?kategori=regional&sub=regional&detail=14092


Raut wajahnya yang sudah menua, tidak menggoyahkan niat seorang Pak Tua berusia 62 tahun untuk terus mengayuh sepeda. Digenggamnya setang sepeda tua yang terbuat dari besi kopong hasil jual sepeda kumbangnya setengah dasawarsa yang lalu di depan setasiun Jatinegara seharga 50 ribu rupiah. Ayah tiga orang anak ini mantap melangkah mengayuh sepeda. Membelah gang sempit, menyusuri jalan besar hanya satu tujuan, mengambil gaji pensiunnya di Kantor Pos Jatinegara samping Polres Jakarta Timur, depan Lapangan Jenderal Urip Soemohardjo.

Harapan untuk dapur kembali ngebul, kini tergambar lepas dipikirannya. Gaji pensiunan yang diambil setiap tanggal 5 setiap bulannya, tidak lupa diberikan sedekah. Hanya berbalut kaos dan celana bahan usang, pensiunan PNS di salah satu dinas Pemprov DKI ini tetap merasa bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang telah diberikan kepadanya.

Tinggal di rumah sangat sederhana hasil renovasi seadanya. Pak Tua menceritakan rumah yang dulu dindingnya terbuat dari anyaman bambu, adalah tempat bernaung yang cukup nyaman bersama seorang istri dan ketiga anaknya. Di situlah, Pak Tua mengarungi bahtera rumah tangga, membesarkan anak-anaknya hingga dewasa. PNS golongan kecil ini, 7 tahun yang lalu telah purna karya alias pensiun.

Menikmati masa pensiun, Pak Tua berusaha untuk terus survive menjalani hidupnya. Pernah suatu waktu dirinya bercerita tentang jaman susah. Pak Tua mengisahkan bagaimana menghidupi keluarganya dengan gaji PNS golongan I yang serba kurang. Kurang membiayai hidup apalagi membiayai sekolah anak-anaknya. Menjadi seorang pedagang keliling kelengkapan tidur seperti sprei, sarung bantal, sarung guling dan lainnya bahkan pernah dilakoni, itupun dilakukan saat hari libur kerja (dahulu hari libur kerja hanya hari minggu).

Alat kelengkapan tidur yang dijajakannya itu, adalah hasil olahan bekas kantung terigu, dibeli dari pengecer limbah kantung bekas dibilangan Matraman. Dipilihnya Kantung Terigu menurut Pak Tua Pensiunan PNS tersebut, karena murah dan bahannya yang lembut. Kemudian olahan limbah itu dirajut menjadi sprei, sarung bantal dan sarung guling setelah sebelumnya melalui proses pencucian, pengeringan dan penjahitan yang sangat tradisional.

Hasil jadi sprei, sarung bantal dan sarung guling kemudian dipasarkan di daerah Cikarang Bekasi dengan sistim kredit, bayar dua minggu sekali. Maka, setiap dua minggu sekali Pak Tua itu pergi memetik rejeki. Sangat murah, cuma 15 ribu untuk sprei, 7 ribu untuk sarung bantal atau guling. Itupun dicicil. Membayangkan harga semurah itu, sekilas terbersit apakah bisa mengganti ongkos kendaraan, ongkos beli limbah Kantung Terigu bahkan ongkos kerja Pak Tua dan Istrinya yang menjahit hingga tengah malam. Tapi itu cerita kelamnya 20 tahun yang lalu.

Pak Tua kembali mengisahkan bagaimana susahnya berjuang untuk hidup yang lebih baik demi sekolah anak-anaknya yang mulai besar. Pernah juga dirinya bercerita bagaimana menjadi penjual es campur untuk sekedar menutup biaya hidup yang menjulang tinggi. Tapi kisah itu dijadikannya pelajaran oleh Pak Tua untuk terus bersabar, berdoa dan berusaha. Dirinya berkeyakinan, hidup tidak selalu di bawah, ada saatnya di atas. Biar dirinya saja yang mengalami pahitnya hidup, asalkan anaknya bisa bersekolah. Dirinya bahkan tidak mewarisi apapun kepada anak-anaknya selain ilmu dan perjuangan hidup.

Demikian sepenggal kisah Pak Tua Pensiunan PNS golongan rendah yang bisa diambil hikmahnya. Sekarang Pak Tua bangga bisa menyekolahkan ke tiga anaknya hingga perguruan tinggi, meskipun dirinya hanya tamatan SR (SR = Sekolah Rakyat, sekarang SD). Harapannya cukup sederhana, “Saya tidak bisa mewariskan kekayaan, saya Cuma ingin anak bisa sekolah sampai tinggi,” begitu katanya kepada saya saat di Jatinegara beberapa waktu yang lalu.

Senin, 11 Juli 2011

Badan Jalan Tergenang Air, "Who is the Responsbility ?"

Layaknya, sebuah badan jalan, mempunyai saluran air dikiri maupun kanan jalan, yang mampu menampung dan mengaliri air baik saat musin hujan maupun dimusim kemarau. Namun demikian, kenyataannya sekarang tidak lagi terlihat. Banyak mata memandang sekeliling pinggiran Jakarta, baik jalan utama maupun jalan akses, sering mengalami kerusakan. Dari aspal yang mengelupas sampai beton yang retak. Dan yang patut dipersalahkan, salah satunya adalah terganggunya fungsi saluran air.

Seperti dibeberapa sudut suatu perkampungan, banyak badan jalan yang rusak akibat genangan air selokan tumpah ruah ke jalan. Air kotor yang seharusnya bisa mengalir lancar, ternyata tidak bisa mengalir sebagaimana mestinya. Pendangkalan selokan dan kurangnya perhatian terhadap fungsi saluran air, menjadi biang keladi jalanan mudah rusak. Meskipun usaha dari dinas terkait sudah melakukan perbaikan jalan, tidak usah ditanya, dalam tempo sebulan pasti sudah rusak lagi. Dan lagi-lagi, pengguna jalan mengeluh hingga mengusap dada sebagai tanda keprihatinan yang teramat dalam.

Ada beberapa penyebabnya, sikap masyarakat yang membuka usaha dipinggir jalan dengan sengaja menutup ruang terbuka saluran air demi pelebaran lahan. Pada saat hujan dan terjadi pendangkalan, bisa dipastikan air akan meluber dan tumpah ke jalan.

Adanya perubahan peruntukkan bangunan atau lahan yang sedianya sebagai tempat tinggal menjadi tempat usaha. Tidak dipungkiri, berubahnya tata ruang disebabkan tingginya nilai ekonomis sebuah lahan dipinggir jalan. Pemerintah terkait sendiri loyo meredam perubahan tata ruang tersebut, bahkan ada dugaan main mata oknum masyarakat dan oknum petugas terkait di lapangan.

Kemudian, masih rendahnya masyarakat memahami fungsi saluran air di pinggir jalan. Terbukti, saat ada ruas jalan yang digenangi air, tampak sang empunya tempat usaha tidak peduli. Dengan dalih, sudah tugas dinas terkait, oknum masyarakat itu lepas tanggung jawab dari rusaknya badan jalan. Bahkan pura-pura tidak mengerti. Padahal di depannya, sebuah lahan tidak lebar telah berdiri di atas saluran air, menutup ruang aliran air di bawahnya.

Selain itu, usaha dinas terkait memperbaiki jalan patut diberikan apresiasi yang tinggi. Namun, usaha tersebut tidak dibarengi dengan perbaikan saluran air. Pendangkalan saluran air dapat menyebabkan terhambat dan kurang lancarnya air pelimbahan mengalir.

Dengan kenyataan di atas, perlu dilakukan langkah-langkah mengembalikan fungsi saluran air sebagaimana mestinya. Mindset masyarakat tentang lahan yang bernilai ekonomis harus diberikan pemahaman seimbang. Dalam hal ini, pemerintah perlu turun tangan memberikan pelatihan sebelum masyarakat memulai usaha.

Kemudian, berubahnya tata ruang harus disikapi tegas oleh pemerintah. Masyarakat perlu diberikan penjelasan aturan-aturan yang terkait dengan tata ruang. Sikap persuasif hendaknya lebih diutamakan, kalau perlu pemerintah mensosialisasikan aturan tersebut hingga ke pelosok perkampungan. Dan, yang tidak kalah penting adalah memberikan pencerahan betapa pentingnya saluran air bagi keutuhan jalan. Dinas terkait harus berintegrasi bahu membahu memberikan edukasi kepada masyarakat.

Pemahaman akan fungsi saluran air, setidaknya memberikan manfaat bagi masyarakat itu sendiri. Melihat bagusnya jalan adalah dambaan kita semua. Tidak selalu pemerintah yang ketiban tanggung jawab, kita sebagai masyarakatpun harus pula memikul  tanggung jawab memelihara keutuhan jalan. Dengan demikian, kesejahteraan mana lagi yang bisa dinikmati selain jalanan bagus dan tidak rusak.

Bagaimana dengan anda ?

Langkah Hidup, Percaya Diri dan Kepribadian

Sebuah idiom lama mengatakan, langkah awal menentukan langkah akhir. Kiranya, sangat tepat diberikan perhatian serius jika ingin menggapai sukses dalam perjalanan hidup. Salah sedikit saja menentukan langkah, bisa dipastikan akan tergelincir dalam sebuah episode hidup yang tidak diinginkan. 

Sebagai contoh, tengok sajalah kasus Nazaruddin, seorang mantan petinggi partai pemenang pemilu 2009 yang kini buron. Nazaruddin kini tersandung banyak masalah. Ada banyak kasus yang harus diselesaikan melalui jalur hukum, tetapi dirinya sekarang hilang bak ditelan ombak besar. Terlepas dari prasangka yang ditujukan padanya, politisi muda berusia 33 tahun ini awalnya sangat percaya diri, namun salah langkah dalam mengambil putusan hidup, ia kini menjadi pergunjingan orang di seantero nusantara.

Namun begitu, di sini kita sedang tidak membahas tentang Nazaruddin, tetapi adalah sebuah keniscayaan jikalau kita sebagai pribadi dalam melangkah, menentukan putusan ataupun bersandar pada cita-cita besar, selalu mengedepankan keberhasilan dengan kepercayaan diri yang tinggi. Betul, percaya diri itu perlu.  Seperti yang dikatakan Joe Matsuda dalam blognya (joematsuda.com), rasa percaya diri adalah modal untuk mencapai kesuksesan dalam hal apapun. Rasa percaya diri bisa diartikan sebagai keberanian dalam diri sehingga seseorang mampu melakukan sesuatu yang dianggapnya benar.

Namun dalam perjalanan hidup, terkadang kita sendiri sering disibukkan dengan percaya diri, yang tidak jarang menuntun kita salah pilih mengambil langkah. Kita sendiri tidak paham, anomali apa yang terjadi dalam diri kita. Perubahan pandangan yang begitu cepat demi sebuah kepentingan, serta merta bisa membalikkan sikap orang menjadi 180 derajat.

Nah, kalau sudah begini, bisa dipastikan sulit untuk mundur, apalagi ketika dipersimpangan jalan, ada tekanan besar yang harus meneruskan langkah tersebut. Dan, menjadi masalah ketika langkah yang terlanjur dipilih, berujung pada ketidakpastian atau dengan kata lain keluar dari jalur yang semestinya. Ini menjadi sebuah ironi dan sesuatu yang tidak diharapkan. Semuanya bermula dari egoistis pribadi yang mengedepankan percaya diri.

Keinginan untuk berhasil, melalui apa, dengan cara apa, tanpa disadari bisa membungkus pribadi pada kecongkakkan. Alhasil, terbentuklah pribadi yang sering membanding-bandingkan antara subyek yang satu dengan subyek yang lain. Ketika itu terjadi, pribadi yang mulanya mempunyai visi dan misi mulia, mendadak menjadi pribadi yang menjunjung kepentingan.

Padahal, kepentingan bukanlah segala-galanya. Kepribadianlah yang menjadi abadi dan orang akan selalu ingat siapa kita. Kepentingan adalah jalan menuju sukses pribadi. Alangkah indahnya kepentingan, jika dilandasi dengan karakter percaya diri dan tidak congkak terutama menentukan langkah apa yang hendak diambil.

Saya pernah teringat pesan seorang guru yang kini sudah almarhum. Dirinya pernah berpesan kepada saya tentang makna kehati-hatian dalam melangkah. “Hati-hati saat melangkah, pikir dua kali,” katanya.

(Sejauh memandang, tapi tak sempurna, namun tetap berusaha menjadi yang terbaik).

Senin, 13 Juni 2011

Kisah Pasar dan Layang-layang

Gbr di unduh dari : edwinsaragih.wordpress.com 

Mengisi waktu luang, ku mencoba berusaha melepaskan kepenatan dengan menulis. Teringat guru yang juga dosenku saat kuliah di Salemba tadi pagi buka situs jejaring Facebook. Kulihat-lihat tulisannya, beliau memberi saran untuk menjadikan pengalaman di pasar dituangkan dalam tulisan. Ku anggukkan sarannya dan beberapa detik saat membaca, tanpa dinyana seorang bapak, seniorku dilingkungan tempat kerjaku ternyata mempunyai nasib sama seperti diriku. Tapi aku sendiri tidak tahu ceritanya bagaimana, aku cuma bisa berharap semoga beliau juga bisa menikmatinya dan dengan senang hati menemani istrinya pergi ke pasar.

Kembali menimbang saran guruku untuk menulis, aku berusaha untuk mencari inspirasi menulis dengan prinsip menulis bebas apa adanya. Namun terkadang, yang ada dibenakku adalah rasa sungkan pergi ke pasar dengan waktu yang lama. Pantas tidak ya. Sempat ku tertegun beberapa saat, tidak enak menceritakan pengalamanku yang kurang berkesan, tapi tidak apa, pikirku. Buatku yang penting pengalaman saat itu bisa dituangkan dalam tulisan. Siapa tahu ada nilai seninya karena ku yakin ada unsur kebebasan berekspresi dalam menulis sepanjang apa yang ditulis adalah benar sesuai dengan fakta. Setelah kupikir-pikir, inilah kemudian yang menjadi pengalamanku menemani istri ke pasar dan kupersembahakan untuk semua teman-temanku agar tidak ikut-ikutan sungkan menemani istri ke pasar. Jangan hanya saat pacaran senang, setelah nikah jadi tidak peduli.

Episode Pasar

Minggu pagi di hari ke dua bulan puasa 1430 H, setelah selesai mandi dan berwangi ria, tiba-tiba mantan kekasih mengajak pergi ke pasar mencari panganan untuk malam hari nanti. Waduh, gumamku. Sebenarnya aku enggan untuk menemaninya ke pasar, tapi karena ada sesuatu yang bisa meluluhkanku akhirnya terpaksa ku menemaninya juga ke pasar.

Setibanya di pasar, seperti biasa kami berdua hunting kebutuhan sembako yang sudah tercatat di buku catatan. Satu persatu kios di pasar di sisir olehnya. Tanpa banyak cakap, ku menemaninya sambil membawa tas kresek. Hingga dirinya sedang melakukan tawar menawar, aku pun sibuk melihat-lihat rupa-rupa kebutuhan sembako. Sesungguhnya ini adalah trik untuk mengusir rasa jenuh.

Di lain sisi, istri tersayang tampak asik menawar bahkan si empunya dagangan tak berkutik dibuat oleh tawarannya. Memang, istriku ini jago sekali menawar. Jika mentok, ia akan mencari jenis pedagang yang sama untuk menawar bahkan membandingkan harga dari satu pedagang ke pedagang lainnya. Padahal yang dicari jenisnya sama dan itu bisa memakan waktu hingga berpuluh-puluh menit. Sampai akhirnya apa yang dimaksud tidak tercapai ia kembali ke pedagang yang pertama di tawarnya, alasannya lebih murah sedikit dan barangnya masih segar.

Sambil iseng ku mencoba berhitung sudah berapa pedagangkah yang dihampirinya. Mencari satu jenis bahan sembako bisa memakan waktu lama apalagi yang dicari hingga beberapa jenis. Belum lagi becek dan baunya pasar. Jujur, kalau bukan karena sayang aku sungkan untuk menemaninya. Bukan karena ciri khas pasar yang becek dan bau tetapi hanya semata aktivitas tawar menawar bisa memakan waktu lama, meski tujuannya untuk mencari harga yang lebih murah. Meskipun begitu, waktu berkunjung di pasar menjadi kesan tersendiri. Melihat-lihat keramaian memang pasar tempatnya. Berupa-rupa bentuk kios dan dagangan termasuk pedagangnya juga pembelinya berbaur menjadi satu dan saling sapa menyapa satu dengan yang lainnya untuk kemudian roda ekonomi masyarakat menjadi berputar.

Ada petuah lama yang mengatakan pasar selain tempat berkumpulnya pedagang dan pembeli juga menjadi tempat favorit berkumpulnya syaiton. Yang menjadi sebab tak lain dan tak bukan pasar identik dengan oknum pedagang berbohong. Karena ada keinginan mengambil untung yang besar, beberapa oknum pedagang tega berbuat bohong dan curang dengan mengurangi takaran atau timbangan dagangannya.

Namun, dengan tidak menafikan pedagang yang baik, pasar juga menjadi ajang tempat berbuat untuk jujur. Pedagang yang baik biasanya berlomba-lomba mencari rezeki dengan kejujuran meskipun untung yang di dapat sedikit. Tetapi dengan perjuangan semata karena ibadah, pedagang yang baik biasanya mendapat lebih banyak teman daripada mendapat untung bahkan dianggap saudara oleh si pembeli. Tidak dipungkiri kadang-kadang mereka bertemu pembeli yang baik dan bukan satu hal yang mustahil jika ditemukan pembeli berkenan tidak menerima kembalian. Biar buat si abang saja katanya.

Tidak melulu pesimis dengan petuah lama, beberapa pedagang mengakui kalau pasar menjadi tempat silaturrahmi antara pedagang dan pembeli. Hubungan yang baik bisa dirajut menjadi hubungan jual beli yang harmonis sesuai syariah.

Semoga pasar tidak melulu menjadi tempat jual beli, pasar dapat dimanfaatkan menjadi ajang temu sapa pedagang dan pembeli hingga lanjut ke dalam transaksi yang harmonis. Sukur-syukur dapat mengikat tali persaudaraan.

Setelah selesai menemani istri pulang dari pasar, kurenungkan satu hal yakni ada kebahagiaan yang luar biasa dari istri ketika pergi ditemani suaminya. Meskipun si suami memendam rasa sungkan pergi ke pasar dan menggantinya dengan senyum tanda bersedia. Kelak, jika akan ke pasar lagi aku berjanji akan menemaninya hanya dengan satu catatan, jangan berlama-lama menawar barang yang dicari.

Episode Layang-layang

Di dua hari awal bulan ramadhan, nampak terasa berbeda dari hari-hari biasa. Seperti biasa, saat libur bersama keluarga, sikecil selalu minta diajak bermain. Maklum, sikecil seorang diri tanpa ada teman yang bisa menemaninya setiap hari. Hari-hari indahnya dilalui tanpa kedua orangtuanya yang sibuk dengan pekerjaan. Hanya sesekali kesempatan dia dapatkan dan kesempatan itu adalah hari libur sabtu dan minggu. Seakan ingin menumpahkan hasrat bermain dan menagih janji, sikecil tidak pernah lupa menarik tanganku untuk bermain. Ia mengajakku bermain tepuk bulu, bola sepak, masak-masakan, menari, bernyanyi dan bermain layang-layang di lapangan.

Seorang ayah pemula seperti aku, terkadang merasa kasihan melihat keriangan sikecil hilang terdiam ketika ku menolak halus ajakan bermainnya. Penolakan ini sesungguhnya bagian daripada pengurangan aktivitasku, apalagi ketika aku menjalankan ibadah berpuasa. Di tengah terik panas matahari dia tidak henti-hentinya mengajakku bermain. Melihat fisiknya seperti orang dewasa yang tak kenal lelah. Aku serasa kalah dan tak ada apa-apanya. Ku coba rayu dan hibur dirinya dengan bermain kertas origami, tapi ia tidak tertarik. Dengan jurus jitu sekeping DVD usang Tom and Jery, si kecil tertarik bermain di rumah, tidak jadi keluar rumah.

Tibalah saat ia makan siang. Sedikit asupan yang makannya menandakan sikecil lagi tak enak makan. Berulang kali diberikan beberapa suap nasi dan lauk, tetap saja ditolaknya. Bahkan makanan yang tadi diberikan masih menempel erat di dalam mulutnya tidak dikunyah sama sekali. Pertanda apakah ini ?

Sejurus kemudian ibunya memberikan makanan pengganti yang tak kalah gizi, sikecil tampak melihat-lihat saja. Aku sempat khawatir, jangan-jangan sikecil badannya tidak enak. Kelihatan sekali ia tidak nafsu makan. Berbagai macam rayuan dikerahkan agar sikecil mau makan termasuk mengajaknya keliling kompleks. Dan benar saja, si kecil bersedia makan meski tak banyak. Sebenarnya aku berharap dengan memutarkan film kartun ia mau makan, tapi nyatanya malah susah makan. Hanya ajakannya saja main ke luar rumah jadi hilang.

Saat sedang asik mencari cara bagaimana mengatasi masalah ini, ibunya memberitahukan kalau si kecil tertidur. Aku jadi kasihan melihatnya. Kupangku dan kugendong ia ke kamarnya. Makan yang tidak selera menjadi perbincangan antara aku dan istriku.

Menjelang sore, sikecil terbangun dan tubuhnya basah kuyup oleh keringat. Gurat-gurat bekas bantal di pipinya yang menggemaskan kelihatan lucu. Selang beberapa menit, ia minta dimandikan dan kembali mengajakku untuk bermain ke luar rumah. Aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang diinginkannya atau tidak selera makan sikecil ada sangkut pautnya dengan penolakanku bermain.

Secara spontan, tiba-tiba ku mengiyakannya mengajak bermain ke luar rumah sambil menunggu bedug adzan maghrib. Maka, dimandikanlah si kecil oleh ibunya. Sayup-sayup terdengar keriangan menyertai wajahnya. Sejenak kemudian, aku berpikir kemana yang enak mengajak sikecil agar bisa bermain, makan yang tertunda dan istirahatku jadi sempurna. Ah..akhirnya kutemukan jawabannya. Bermain layang-layang di lapangan, Siapa tahu bisa jadi jalan keluar.

Setelah selesai mandi dan berpakaian, sikecil kembali mencariku. Saat itu aku sedang memanaskan sepeda motor. Tanpa basa-basi, sikecil secepat kilat naik ke sepeda motor dan duduk ia di depan menungguku siap untuk jalan.

Agar suasana bermain jadi berkesan, ku ajaklah ibunya sambil membawa panganan yang tertunda. Akhirnya jadi juga bermain dengan si kecil di lapangan. Banyak anak-anak bermain layang-layang di lapangan. Rupa dan bentuk layangan menghiasi langit pondok cabe yang cerah. Sambil ku rajut benang dan menerbangkan layang-layang, ibunya tak kalah sigap menyuapi makan yang tertunda. Ku lihat sepintas, dia mau menyantap makanannya. Hatiku lega tak karuan, akhirnya dia mau makan.

Layang-layang terus terbang di angkasa. Kini giliran sikecil kuberi kesempatan untuk memainkan tali layang-layang. Luar biasa, ia menikmatinya dan mengerti seakan sudah pernah main beberapa kali. Terpancar dari wajahnya keriangan dan keceriaan melihat ayah dan ibunya berkumpul bersama dengannya bermain layang-layang.

Sore hari yang sangat bahagia, bisa menyenangkan si kecil dengan bermain bersamanya. Kebetulan, bermain layang-layang merupakan kesukaanku sejak kecil. Pikiranku sepintas kembali mengingat masa kecilku bermain layang-layang. Perasaan baru kemarin, sekarang aku yang menuntun si kecil bermain layang-layang.

Aku menjadi mengerti kenapa si kecil jadi malas makan, rupanya ia mempertontokan sebuah bentuk ketidaksukaan karena aku menghindar bermain dengannya. Ketika aku bersedia, ia kembali mau makan dengan lahapnya. Ada-ada saja gumamku. Mungkin inikah yang namanya seni berumah tangga dan mempunyai anak. Sujud syukurku panjatkan kepada-Nya yang memberikan suatu pelajaran tak terhingga dalam upayaku merajut tali bahagia dengan istri dan anak.

Sejak saat itu, ku harus bisa memahami apa yang menjadi kemauan si kecil supaya pertumbuhannya tidak menjadi terhalang oleh suatu apapun termasuk kondisi psikologinya. Terimakasih Tuhan. Kau telah memberiku sebuah pandangan arti hidup.

Jelang sore dan memasuki bedug adzan maghrib, kami bertiga pulang dengan senangnya menyambut waktu berbuka puasa. Tepat sampai di rumah, datanglah waktu adzan dan kami bertiga berbuka puasa bersama.