Rabu, 19 September 2012

Jelang PILKADA DKI Putaran II


Mengail Suara Masyarakat

Jelang pemilihan Gubernur DKI Putaran II, invasi dan penetrasi pencitraan calon Gubernur semakin sering kita lihat di banyak media. Beberapa media bahkan oleh sebagian masyarakat dianggap sudah berlebihan. Kenyataan ini memang tidak bisa dipungkiri karena media merupakan alat yang cukup ampuh untuk menjaring pemilih sebanyak mungkin.

Di beberapa kasus Pilkada lainnya, ada peserta bahkan tim sukses memanfaatkan jasa survey untuk melakukan hitungan cepat. Prestasi yang dilakukan beberapa lembaga survey atas beberapa PILKADA maupun PEMILU yang lalu, dijadikan bahan rujukan membuat survey yang diduga bisa mengarahkan pemilih mencoblos calon tertentu. Meskipun hal itu sering dibantah, namun fenomena menjamurnya Survey terhadap tingkat keterilihan calon Gubernur, bisa ditafsirkan beragam oleh masyarakat berpendidikan.

Tidak itu saja, disinyalir masing-masing tim sukses bekerja keras dengan jejaring serta kemampuan yang profesional. Tak lain dan tak bukan, lagi-lagi bagaimana membuat skenario agar suara pemilih bisa diarahkan untuk memilih calon tertentu. Fenomena ini tidak begitu saja terjadi. Dengan memanfaatkan multi media seperti Televisi, Radio dan Internet, kini bisa diketahui kemana arah  yang diinginkan masyarakat sebenarnya.

Menurut data dari beberapa media perkiraan jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun 2012 sudah mencapai angka 80 juta pengguna. Padahal menurut beberapa media online pada tahun 2011, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 45 juta pengguna, dan itu artinya ada lonjakan 35 juta pengguna untuk satu tahun ini. Dengan angka yang sedemikian besar, tak pelak membuat siapapun yang ingin menduduki kursi Gubernur akan berusaha mati-matian mendapatkan suara masyarakat.

Itu baru melalui angka pengguna internet, belum lagi dengan angka pemirsa televisi yang jauh lebih besar. Menurut AC Nielsen sebuah lembaga pemeringkat terkemuka, pertumbuhan jumlah penonton televisi selalu mengalami penaikan, palagi terkait dengan program yang ditayangkan mendapat tempat di masyarakat.

Sebagai contoh, seperti data yang diungkapkan oleh Nielsen pada tahun 2011 lalu. Untuk survey pada saat bulan puasa, jumlah pemirsa televisi bertambah hingga 16%, potensi penonton TV bertambah 8% dari rata-rata 13,4 juta orang menjadi rata-rata 14,5 juta orang (usia 5 tahun ke atas di 10 kota besar di Indonesia).

Kenaikan jumlah penonton TV tertinggi terutama terjadi pada dini hari (02.00-05.00), yaitu lebih dari enam kali lipat dari rata-rata 2 juta orang pada bulan lalu menjadi rata-rata 12,2 juta orang. Di dini hari, stasiunstasiun TV nasional terutama menambah jam tayang untuk program hiburan dari total 67 jam menjadi 241 jam dan program religi dari 108 jam menjadi 173 jam. Sementara porsi jam menonton pemirsa terutama bertambah untuk program hiburan, terutama komedi dan variety show, yaitu hingga 11 kali lipat dari rata-rata kurang dari 30 menit menjadi hampir 4,5 jam (total selama bulan Ramadhan). Mereka juga menambah jam menonton untuk sinetron sebanyak 1 jam menjadi hampir 2 jam dan 25 menit untuk program religi menjadi hampir 1,5 jam. Namun program yang paling banyak ditonton di dini hari masih didominasi oleh program olah raga. Dengan potensi sebesar itu, pantas saja jika calon pasangan Gubernur berlomba-lomba menempatkan jam tayang iklan sebagai media kampenye yang sangat efektif.

Sebagai gambaran, perkiraan jumlah pemilih di DKI Jakarta untuk putaran II berjumlah sekitar 6.996.951 pemilih. Artinya, dengan menggenggam 0,5 % dari pengguna internet dan 50 % dari pemirsa televisi, bisa dipastikan calon tertentu yang menguasai pemanfaatan media menjadi pemenang PILKADA. Belum lagi dengan suara yang mengambang (golput) yang ditaksir mencapai 36 %. Asal bisa meyakinkan program yang diusung dan gencar melakukan sosialisasi, angka golput inipun bisa diraup menjadi modal menuju kursi Gubernur. Dan ingat, dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta jiwa, Jakarta adalah barometer model pemilihan umum di Indonesia.

Tulisan ini sebenarnya hanyalah gambaran bagaimana penggunaan media seperti internet dan televisi sebenarnya sangat ampuh untuk mempengaruhi pola pikir masyarakat. Siapakah yang menjadi pemenang dalam pentas PILKADA DKI putaran II kali ini. Semuanya kembali kepada masyarakat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam pesta demokrasi.

Pertanyaannya sekarang adalah, seberapa jauh kemampuan calon gubernur dan wakilnya bisa melakukan penetrasi melalui media internet dan televisi. Apakah sumber daya yang dimiliki mampu menjangkaunya dan bagaimana dengan bantuan dana dari pihak ke tiga ataukah harus mengeluarkan uang dari kocek sendiri. Bagaimana pula dengan ketaatan kontestan terhadap peraturan perundang-undangan tentang Pemilihan Kepala Daerah.

Mari kitunggu jawabannya pada tanggal 20 September 2012 yang akan datang.

Senin, 13 Agustus 2012

Serba-serbi Mudik



Gambar Mudik oleh Google
Mudik, mungkin hajatan ini hanya ada di Indonesia. Entah dari mana asalnya, mudik kini telah menjadi tradisi dan melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ritual pulang kampung yang biasa dilakukan jelang dan saat lebaran sepertinya mampu membetot segala daya sisi kehidupan masyarakat. Mau tahu alasannya ?

Pertama.

Dari sisi budaya, mudik merupakan ritual tradisi pulang kampung. Seperti diketahui, masyarakat Indonesia yang mejemuk dengan berbagai macam suku dan agama adalah masyarakat yang masih memegang prinsip penghormatan kepada tanah kelahirannya. Selain itu, perilaku masyarakat yang masih menjunjung tinggi keberadaan keluarga, dimana orang tua, suami, isteri, anak, saudara dan handai taulan menjadi bagian penting dalam hidupnya. Berkumpul dengan keluarga dan berbagi kebahagiaan dengan orang terdekat ketika lebaran adalah moment yang selalu dinantikan. Terutama bagi setiap orang yang lama merantau di kota. Nah, saat setahun merantau, biasanya momen jelang lebaran dimanfaatkan untuk pulang kampung dan berkumpul dengan orang dekat meskipun sebentar.

Kedua.

Kota besar seperti Jakarta dan lainnya merupakan kota yang dianggap sebagian masyarakat desa menjadi ladang harapan perbaikan kesejahteraan mereka. Geliat pembangunan yang marak dilakukan, diduga sebagai penyebab tertariknya orang desa merantau ke kota. Dengan kata lain, dari sisi ekonomi, kota menjadi tujuan dan daya tarik tersendiri para perantau untuk mengadu nasib. Diakui memang, gencarnya pembangunan kota, dipastikan beriiringan dengan permintaan tenaga kerja yang besar. Atas dasar hal ini, tidak dipungkiri banyak tenaga kerja potensial yang ada di kota, sebagian besar berasal dari desa.

Ketiga.

Setelah setahun merantau dan bekerja di kota, biasanya para perantau mulai dihinggapi rasa kangen terhadap keluarga di kampung halamannya. Kerja keras yang dilakukan, kini menuai hasil dan hasrat menumpahkan kangenpun biasanya direncanakan saat jelang lebaran. Bersama-sama dengan teman dan saudara, keinginan pulang kampung kemudian diatur sedemikian rupa. Harapannya jelas, pulang kampung bisa berlangsung dengan aman dan nyaman.

Keempat.

Banyak cara dilakukan para perantau untuk kembali ke kampung halamannya. Mulai dari kendaraan yang digunakan hingga rute perjalanan yang akan ditempuh. Kini, hajatan mudik tersebut bukan hanya milik para perantau mengadu nasib di Kota besar. Hajatan mudik kini menjadi perhatian pemerintah dan jajarannya. Lihat saja, setiap tahunnya, pemudik yang akan pulang kampung selalu bertambah. Dampak positifnya, tentu menggenjot perekonomian nasional. Potensi pergerakan ekonomi sangatlah besar. Melihat hal ini, pemerintah harus jeli dan berkepentingan untuk melakukan pengaturan bagaimana ritual mudik bisa berjalan lancar dan aman. Keterlibatan pemerintah dan jajarannya sangatlah penting. Karena mudik sudah menjadi bagian sisi kehidupan negara, maka fokus untuk memberikan layanan publik terbaik adalah salah satu bagian dari cita-cita negara yang adil makmur dan sejahtera.

Kelima.

Tidak hanya pemerintah yang berkepentingan, kalangan usahapun seperti kena ketiban durian runtuh. Besarnya potensi mengeruk keuntungan, menjadikan pengusaha berlomba-lomba memberikan pelayanan yang terbaik. Tidak melelulu menaikkan tarif jasa, para pengusaha juga turut berbagi kepada calon pemudik untuk pulang kampung gratis. Dan tentu saja, program mudik gratis menjadi tempat tersendiri di hati para pemudik.

Rabu, 08 Agustus 2012

KASUS SIMULATOR SIM KORPS LALULINTAS

KPK ATAUKAH POLRI YANG BERHAK ?

Gambar oleh Google
Sejak dimulainya penyelidikan kasus simulator sim di Lembaga Korps Lalulintas yang dilakukan olek KPK pada awal tahun 2012 lalu hingga pertengahan tahun 2012, memang belum menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Namun beberapa bulan kemudian, sejak Majalah Tempo mengangkat berita tentang kasus tersebut dengan judul “SIMSALABIM...., POLRI sebagai pihak yang dirugikan lantas bergerak memulai penyelidikan dengan memeriksa beberapa saksi terkait. Sayangnya, penyelidikan yang dilakukan masih berjalan di tempat hingga KPK kemudian pada akhir bulan Juli lalu menetapkan seorang Jenderal Aktif sebagai tersangka kasus Simulator SIM yang diadakan tahun 2011 lalu.
Masalah kemudian timbul ketika tim Penyidik KPK menggeledah kantor Korps Lalulintas untuk mencari barang bukti. Usai melakukan penggeledahan dan mendapatkan beberapa barang bukti, Tim Penyidik KPK tidak diperkenankan keluar meninggalkan gedung Korps Lalulintas. Aksi ini dilakukan oleh dua orang petugas jaga yang tidak membukakan palang pintu ketika Penyidik KPK berniat keluar meninggal gedung. Alasan perintah pimpinan kemudian menjadi dasar kuat bagi petugas tersebut untuk tidak membukakan pintu. Sadar akan tindakannya, beberapa pimpinan POLRI kemudian mengklrafikasikan bahwa hal tersebut dilakukan karena ada koordinasi yang belum selesai dilakukan.
Benar saja, tidak berapa lama kemudian datang pimpinan KPK dan petinggi POLRI untuk melakukan koordinasi terkait aksi penghadangan tersebut. Dan, beberapa jam kemudian mobil Penyidik KPK yang tertahan akhirnya diizinkan keluar meninggalkan gedung dengan membawa barang bukti adanya tindakan pidana korupsi yang dilakukan oleh oknum Jenderal aktif di POLRI.
Sikap dan keberanian KPK yang menggeledah kantor Korps Lalulintas dan menetapkan tersangka seorang Jenderal aktif, kontan saja mendapat simpati dan dukungan dari masyarakat dan LSM pegiat anti korupsi. Namun bagi POLRI, aksi KPK dianggap sebagai wanprestasi terhadap MoU yang ditandantangi bersama KPK, Kepolisian dan Kejaksaan beberapa tahun yang lalu terkait penanganan perkara menyangkut anggota para penegak hukum tersebut. Polri menyebutnya KPK telah melanggar kesepakatan.
Sadar akan seluruh publik memandang institusinya, POLRI kemudian mempercepat proses penyidikan kasus pengadaan simulator sim yang diduga merugikan keuangan negara hingga ratusan miliar. Beberapa hari setelah KPK menetapkan seorang Jenderal aktif sebagai tersangka, POLRI kemudian menetapkan tersangka Pejabat Pembuat Komitmen, Ketua pengadaan dan Bendahara serta pengusaha yang terkait dengan proyek tersebut. Terhadap langkah penetapan tersebut, POLRI kemudian diketahui telah meneruskan berkas penyidikan ke Kejaksaaan.
Atas respon POLRI yang begitu cepat, publik kemudian menilai tidak pada tempatnya POLRI turut melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus Simulator SIM. Alasan yang dikemukakan adalah karena di dalam UU KPK, ketika KPK lebih dulu melakukan penyelidikan, maka hak KPK untuk melakukan segala supervisi terhadap tindak pidana yang dilakukan dalam proses pengadaan Simulator Sim di Korps Lalulintas. Dan, POLRI oleh publik termasuk diantaranya adalah para profesional, advokat, akademisi, LSM dilarang untuk ikut melakukan proses hukum kasus tersebut.
Ada semacam kekhawatiran, jika POLRI ikut melakukan penyidikan, akan bertabrakan dengan kepentingan terkait kasus yang dibahas. Terhadap hal ini, beberapa masyarakat terbelah pendapatnya soal bersikerasnya POLRI ikut melakukan penyidikan. Hal ini dibuktikan dengan beberapa pendapat pakar hukum yang mengemuka di media.
Yusril Ihza Mahendra, pengacara dan mantan Menteri Hukum dan Perundang-undangan, usai diundang oleh POLRI untuk dimintakan pendapatnya mengatakan, POLRI juga berhak untuk melakukan penyidikan. Dasar pemikirannya adalah kedudukan dan kewenangan POLRI diatur oleh konstitusi (pasal 30 ayat 4) sedangkan KPK diatur oleh undang-undang. Dengan kata lain, kedudukan konstitusi lebih tinggi daripada undang-undang. Atas dasar tersebut, Yusril mempertanyakan apa bisa POLRI dilarang melakukan proses pengusutan.
Namun, Yusril juga memberikan solusi jika perseteruan tersebut bisa dilerai dengan melibatkan Presiden sebagai penengah kedua Lembaga Penegak Hukum yang hubungannya sedang memanas itu. Selain  itu, Yusril juga menyarankan, bila tidak juga ditemukan titik temu ada baiknya diserahkan ke MK. Jauh hari sebelum Yusril mengatakan itu, Ketua MK Mahfud MD daam satu kesempatan menyatakan bahwa persoalan siapa yang berhak membawa kasus Simulator Sim tidak bisa di bawa ke MK. Terhadap hal itu, Yusril yakin MK bisa menyelesaikannya.
Selain Yusril, Romli Atmasasmita, Pakar Hukum Pidana Internasional menyatakan, MoU yang ditandatangani oleh KPK melemahkan kewenangan KPK itu sendiri. Dalam UU KPK, Lembaga KPK diberikan wewenang melakukan supervisi terhadap perkara korupsi. Wewenang luas pengawasan inilah yang menjadikan KPK kuat menjadi Lembaga Super Body. Namun, selepas MoU ditandatangani, kewenangan KPK menjadi lemah. Atas hal tersebut Romli menyarankan kedua Lembaga duduk bersama mencari jalan keluar sekaligus menyamakan persepsi dalam konteks UU KPK.
Sedangkan beberapa pakar hukum lainnya mengatakan KPK-lah yang berwenang mengusut kasus Simulator Sim. Dasarnya adalah UU KPK yang memberikan wewenang penuh. Sebagian lagi mengatakan MoU kedudukannya adalah di bawah undang-undang, tidak ada kewajiban hukum yang bisa dilakukan oleh para pihak penandatangan MoU jika tidak melaksanakannya, karena strata UU lebih tinggi. Namun, ada juga beberapa pendapat pakar hukum yang mengatakan bahwa MoU adalah perikatan yang ditandatangani para pihak dan berfungsi sebagai UU bagi para pihak tersebut.
Melihat begitu beragamnya pendapat para pakar hukum, tentu membuat sebagian masyarakat yang awam melihatnya tidak lebih dari sebuah dinamika proses demokrasi. Termasuk kita, siapapun yang berhak tidaklah peduli, yang peduli adalah sejauhmana proses pengusutan tersebut dilakukan secara transparan, adil dan benar-benar tidak berpihak pada yang berkepentingan. Point utamanya adalah hasil kinerja dan keseriusan para penegak hukum memberantas korupsi di lingkungannya adalah bukti wujud Lembaga Penegak Hukum anti Korupsi. Kita lihat saja, sejauhmana KPK menuntaskannya dan POLRI menunjukkan itikad baiknya. Hasil dari pekerjaan rumah tersebut biar diserahkan masyarakat sebagai penilai dan pemegang kedaulatan tinggi di Republik ini.

Rabu, 25 Juli 2012

TEMPE DAN TAHU, SAYANGKU DAN GALAUKU


Gambari : Tempe dan Tahu
Saat kecil dulu, ketika waktu makan tiba kami bertiga seringkali disuguhi tempe atau tahu. Panganan khas terbuat dari kedelai yang dipotong berbentuk persegi empat tersebut, mampu membius selera akan cita rasanya yang menggoda perut ketika lapar. Dan yang terjadi kemudian adalah, makan menjadi nikmat ketika tempe atau tahu selalu hadir menemani keriuhan makan bersama. Bahkan tempe dan tahu telah menjadi kebiasaan yang harus dihadirkan ketika tiap kali ingin bersantap hingga sekarang ketika kami telah dewasa.

Definisi Tempe

Sedikit informasi tentang tempe dari beberapa website yang dikunjungi penulis mendefinisikannya sebagai berikut, Tempe adalah makanan yang dibuat dari fermentasi terhadap biji kedelai atau beberapa bahan lain yang menggunakan beberapa jenis kapang Rhizopus, seperti Rhizopus oligosporus, Rh. oryzae, Rh. stolonifer (kapang roti), atau Rh. arrhizus. Sediaan fermentasi ini secara umum dikenal sebagai "ragi tempe".

Kapang yang tumbuh pada kedelai menghidrolisis senyawa-senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana yang mudah dicerna oleh manusia. Tempe kaya akan serat pangan, kalsium, vitamin B dan zat besi. Berbagai macam kandungan dalam tempe mempunyai nilai obat, seperti antibiotika untuk menyembuhkan infeksi dan antioksidan pencegah penyakit degeneratif.

Secara umum, tempe berwarna putih karena pertumbuhan miselia kapang yang merekatkan biji-biji kedelai sehingga terbentuk tekstur yang memadat. Degradasi komponen-komponen kedelai pada fermentasi membuat tempe memiliki rasa dan aroma khas. Berbeda dengan tahu, tempe terasa agak masam.

Tempe banyak dikonsumsi di Indonesia, tetapi sekarang telah mendunia. Kaum vegetarian di seluruh dunia banyak yang telah menggunakan tempe sebagai pengganti daging. Akibatnya sekarang tempe diproduksi di banyak tempat di dunia, tidak hanya di Indonesia. Berbagai penelitian di sejumlah negara, seperti Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Indonesia juga sekarang berusaha mengembangkan galur (strain) unggul Rhizopus untuk menghasilkan tempe yang lebih cepat, berkualitas, atau memperbaiki kandungan gizi tempe. Beberapa pihak mengkhawatirkan kegiatan ini dapat mengancam keberadaan tempe sebagai bahan pangan milik umum karena galur-galur ragi tempe unggul dapat didaftarkan hak patennya sehingga penggunaannya dilindungi undang-undang (memerlukan lisensi dari pemegang hak paten).

Sedikit Cerita Tentang Tempe dan Tahu

Beberapa tahun yang lalu, tempe dan tahu pernah menghilang dari peredaran. Sejatinya, tahu dan tempe harus hadir ketika saat makan tiba. Entah itu kami, anda atau lainnya yang menginginkan kudapan itu ada. Saat itu, semua orang teriak saat tempe dan tahu hilang. Pertanyaan kemudian mengarah kepada pengrajin tempe dan tahu di sentra-sentra industri makan khas tersebut.

Atas pertanyaan masyarakat, para pengrajin hanya lemas untuk menjawab. Mereka hanya bilang, pasokan kedelai mengalami kenaikan harga. Harga yang sebelumnya dianggap murah dan terjangkau, kemudian naik dan mampu mencekik margin keuntungan dari modal dan hasil penjualan tempe dan tahu.

Dengan kejadian itu, pemerintah kemudian melakukan upaya penstabilan harga dengan mengimpor kedelai dari negara produsen. Harga tempe dan tahu kemudian turun dan kembali kedua makanan khas Indonesia ini muncul ditengah masyarakat. Kehadirannya mampu membuat orang jatuh hati. Tempe dan tahu kini perlahan dan pasti menjadi sumber panganan yang mampu menyusul dibelakang beras, jagoan dan favorit masyarakat Indonesia.

Tempe dan Tahu Hilang

Kini, di minggu keempat bulan Juli tahun 2012, tempe dan tahu kembali hilang. Ihwal hilangnya makan khas tersebut ditenggarai karena seretnya pasokan dari Amerika, negara produsen kedelai yang mengalami penurunan produksi akibat kekeringan yang melanda wilayahnya.

Seretnya pasokan otomatis membuat harga kedelai melambung. Dari semula Rp. 6.000 perkilogram, kini menjadi Rp. 8.000 perkilogram. Kenaikan ini serta merta membuat pengrajin tempe dan tahu menjerit. Kenaikan bahan dasar sebesar Rp. 2.000 per kilogram, rupanya mempengaruhi produksi olahan kedelai tersebut. Bagi pengrajin yang mempunyai stok modal bagus, kenaikan Rp. 2.000 untuk sementara waktu tidak terlalu berpengaruh. Namun bagi pengrajin tempe dan tahu yang mempunyai modal pas-pasan, tentu kenaikan harga kedelai saat ini sangat mempengaruhi produksi dan harga jualnya kembali.

Pola pikir masyarakat Indonesia yang masih menomorsatukan harga murah, membuat pengrajin berpikir dua kali untuk menaikkan harga jual tempe dan tahu. Ujung-ujungnya, mereka menyiasatinya dengan mengurangi volume maupun bentuk tempe dan tahu sebelumnya. Meski itu diyakini bisa mengecawakan penikmat tempe dan tahu, cara tersebut adalah cara yang simple agar usaha tetap hidup.

Tempe dan Tahu bikin Galau

Terhadap kenyataan ini, pemerintah dipandang belum bisa melakukan langkah yang berarti. Pemerintah masih sebatas memberikan keyakinan bahwa harga jual bahan olahan tempe dan tahu (kedelai) masih dalam batas kepatutan. Menurut informasi yang didapat, pemerintah masih mentolerir kenaikan kedelai sampai batas maksimun 10%. Beberapa pejabat instansi terkait yang mengingatkan masyarakat agar jangan panik menghadapi isu hilangnya tempe dan tahu.

Pejabat tersebut sepertinya kehabisan ide untuk menjawab luapan kebingungan yang melanda pengrajin tempe dan penikmat tempe dan tahu seperti kita-kita. Malah sayup-sayup terdengar rayuan, “tempe tipis renyah dan enak” menjadi seperti ungkapan yang diyakini mampu menenangkan kegalauan penikmat tempe dan tahu, sekaligus menahbiskan secara lisan kepada pengrajin tempe dan tahu untuk mensiasati bentuk menjadi lebih kecil adalah tidak mengapa.

Dirinya berkeyakinan, penaikkan harga kedelai saat ini (Rp. 8.000) membuat petani kedelai nasional malah bisa bersaing. Harga Rp. 8.000 bisa membuat kesejahteraan petani kedelai nasional makin meningkat. Betul atau tidak ungkapan sang pejabat tersebut, sepertinya belum mampu membius kekhawatiran masyarakat akan hilangnya tempe dan tahu termasuk pengrajin tempe dan tahu yang khawatir usaha produksi makanan tersebut mati.

Harapan-harapan

Terlepas dari itu, semestinya pemerintah bergerak cepat mengambil langkah-langkah penting agar menghilangnya tempe dan tahu bisa dicegah. Satu contoh saja, beberapa tahun yang lalu, tahun dimana tempe dan tahu hilang, pemerintah pernah memberikan subsidi Rp. 1.000 kepada pengrajin tempe untuk membeli kedelai. Kebijakan tersebut, ternyata mampu mencegah tempe dan tahu hilang. Nah, apakah kebijakan tersebut bisa dimungkinkan untuk diterapkan saat ini ? Saya berharap pemerintah bisa memberikan solusi cepat dan tepat sekaligus memberikan informasi yang bisa ditangkap masyarakat.

Apapun kebijakan yang akan diambil, sebenarnya tidak mengubah tempe dan tahu akan citarasanya yang terlanjur melekat dalam indera perasa masyarakat Indonesia. Yang mampu mengubah adalah ketersediaan tempe dan tahu menjadi sebuah harmoni kekayaan pangan Indonesia. Dan, harmoni inilah yang harus dijaga di Republik Sejuta Kuliner, agar senantiasa hadir ditengah-tengah masyarakat.

Dari sebuah tempe dan tahu, bisa menjalar kemana-mana, itulah uniknya. Tempe dan tahu mampu menghipnotis masyarakat Indonesia. Tempe dan tahu mampu mengambil peran dalam perekonomian nasional. Tempe dan tahu juga mampu memberikan warna tersendiri, bahkan warna politik dalam negeri jelang pemilu tahun 2014 yang akan datang.


Jumat, 20 Juli 2012

Krisis Ekonomi Mendera Eropa, Bagaimana Dengan Indonesia ?


Gambar ilustrasi oleh : ekbis.sindonews.com
Krisis ekonomi yang membelit eropa dan amerika beberapa tahun lalu rupanya membuat sistem keuangan dan perdagangan negara yang menganut sistim kapitalis mulai merasakan dampak yang cukup signifikan. Tidak itu saja Indonesia yang menganut sistem ekonomi Pancasila misalnya, ditenggarai juga mengalami penurunan ekspor. Satu contoh saja, pendapatan negara yang dihasilkan dari produk untuk ekspor sampai bulan Mei 2012 anjlok sebesar 8,55% (rilis BPS). 

Dampak penurunan ini disebabkan salah satunya karena  krisis ekonomi yang dialami negara-negara di Eropa sebagai pangsa pasar tujuan, seperti Yunani, Spanyol dan Italia. Adanya krisis tersebut menyebabkan daya beli berkurang sehingga menyebabkan penawarannya (demand) turun. Tentunya dengan krisis yang terjadi membuat pemerintah negara tersebut akan mengurangi pengeluaran belanja negaranya untuk mengimpor barang dari negara lain.

Menghadapi kenyataan demikian, pemerintah perlu mengupayakan membuat instrument guna mencegah penurunan ekspor yang terus terjadi. Jika dibiarkan, tentunya akan mempengaruhi perekonomian Indonesia, terutama untuk belanja negara yang berkepentingan terhadap pembangunan berkelanjutan. 

Sebelumnya beberapa waktu yang lalu, sebuah lembaga pemeringkat Eropa menetapkan kalau Indonesia merupakan salah satu negara tujuan utama Investor menanamkan modal usahanya. Berdasarkan hasil pemeringkatan tersebut, Indonesia diyakini akan mengalami kebanjiran Investor yang ingin melanggengkan usahanya demi kelangsungan hidup perusahaan sebagai akibat dari dampak krisis moneter yang mendera Eropa.

Terhadap hal ini, pemerintah disatu sisi bisa mendapatkan keuntungan untuk menjalankan gerak roda perekonomian sementara disisi lain, ada kekhawatiran akan terjadinya hot money seperti yang dialami tahun 1998 lalu. 

Fenomena hot money yang suatu waktu bisa memukul perekonomian negara harus disikapi dengan hati-hati. Memang, dengan mengalirnya modal ke Indonesia, banyak manfaat yang bisa dipetik, namun harus diingat sifatnya yang sementara dan mudah berbalik (Investor menarik modal besar-besaran) bisa membuat negara semakin kolaps.

Sebaiknya dalam hal menyikapi krisis ekonomi yang melanda Eropa dan banjirnya Investor menanamkan modalnya di Republik ini, pemerintah bisa mengambil manfaat tersebut dengan secepat mungkin namun harus pula diiringi sebuah aturan yang melindungi kepentingan ekonomi nasional. Perlindungan terhadap ketahanan ekonomi nasional harus menjadi prioritas utama. Ingat, krisis Eropa kemungkinan masih panjang termasuk pula krisis ekonomi Amerika. Dua pangsa pasar tujuan ekspor tersebut harus dipantau terus perkembangannya. Perlu ada sebuah Forum Kajian Intelijen Ketahanan Ekonomi untuk melindungi kepentingan ekonomi nasional.

Disamping itu, pembangunan ekonomi khusus dibidang infrastruktur harus dikebut terus. Sedangkan di bidang lainnya, terutama perdagangan perlu digenjot lagi dengan mencari pangsa pasar baru. Meningkatnya geliat pertumbuhan ekonomi kawasan Amerika Latin, India, Afrika dan Cina bisa menjadi rujukan mengalihkan tujuan produk ekspor Indonesia. Meski begitu, pangsa pasar yang lama tidak perlu ditinggalkan lantaran penurunan permintaan. Tetap saja, dipertahankan, dan bukan tidak mungkin suatu saat perekonomian kedua kawasan tersebut pulih, Indonesia punya banyak pilihan pangsa pasar. Dengan ditunjang perencanaan dan Intelijen Kajian Ketahanan Ekonomi Nasional yang ada, krisis ekonomi yang menghancurkan Indonesia tahun 1998 tidak terulang lagi. 

Saat ini, krisis yang terjadi di Eropa dan Amerika harus di barrier agar tidak sampai menjalar ke Indonesia. Dan, pada tataran inilah sesungguhnya Indonesia diuji sejauhmana mampu mengatasi dampak dari krisis Eropa dan Amerika yang belum kunjung usai.

Selasa, 17 Juli 2012

JOKOWI DAN AHOK, FIGUR FENOMENAL WAJAH POLITIK INDONESIA


Jokowi - Ahok, Gambar oleh foto.detik.com
Pemilu Kepala Daerah Propinsi Jakarta baru saja selesai dilaksanakan. Dari 6 pasangan calon Gubernur dan Wakilnya ternyata tidak ada yang mampu meraih suara sebesar 50 % + 1. Namun demikian Pemilu Kada bukan berarti tidak memunculkan kejutan. Fauzi Bowo dan Nara yang merupakan pasangan incumben dan diunggulkan ternyata tingkat keterpilihannya di bawah pasangan Jokowi dan Ahok.

Dalam kesempatan ini, penulis bukan tidak mengupas pasangan lainnya, tetapi lebih pada ketertarikan dengan munculnya fenomena yaitu harapan baru warga Jakarta terhadap sosok yang sederhana dan merakyat. Sosok yang mampu memikat masyarakat Jakarta yang homogen dan sosok yang dianggap sebagai the rising star pada Pemilu Kada Jakarta.

Keterpilihan Jokowi dan Ahok dalam Pemilihan Kepala Daerah di Propinsi Jakarta beberapa waktu yang lalu, kian mengukuhkannya sebagai salah satu kandidat pemimpin idaman masyarakat kota Metropolitan. Jakarta yang notabene sebagai Ibukota Negara Indonesia sepertinya sangat welcome dengan sosok Jokowi dan Ahok. Lihat saja keterpilihan mereka usai PILKADA Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu yang lalu.
Menurut perhitungan cepat Lembaga Survey Indonesia (quick count), pasangan yang diusung Partai PDI Perjuangan dan Gerindra mampu meraup suara hingga 43-44 %, jauh melampaui perolehan suara Sang incumben Fauzi Bowo dan Nara yang memperoleh sekitar 33 %. Selisih suara sekitar 9 % ini sebelumnya tidak diduga oleh semua pihak. Maklum, menurut survey beberapa hari terakhir menjelang pencoblosanI, sebagian Lembaga Survey semua sama mengunggulkan pasangan Fauzi dan Nara. Kisaran angkanya sekitar 50 % lebih. Sementara untuk Jokowi sendiri dipasangkan pada angka kisaran 14 %, tetapi tidak terbukti sekaligus menyatakan bahwa hasil survey belum tentu menjadi representasi masyarakat pemilih yang semaikn cerdas.

Padahal polling yang disyiarkan Lembaga Survey Nasional sepertinya diyakini bisa membius keterpengaruhan masyarakat untuk memilih salah satu kandidat. Disisi lain, Sang Penantang mengaku tidak terpengaruh dan berusaha menepis hasil survey tersebut yang dianggap terlalu dini menyimpulkan, bahkan banyak kalangan mengatakan hasil survey tersebut tidak lebih daripada propaganda Pemili Kada untuk meraih simpati warga Jakarta.

Dinamika apapun yang berkembang dalam masing-masing Tim Sukses dan kepentingan lain Lembaga Survey Nasional terhadap Pemilu Kada Jakarta, ternyata tidak bisa mempengaruhi pikiran dan akal cerdas masyarakat Ibukota. Warga lebih memandang pada upaya apa yang bisa meyakinkan diri untuk memilih calon yang dianggapnya berkualitas dan profesional. Lain dari itu, obral janji yang selam ini sering digembar gemborkan dalam PILKADA tidak lebih dari rayuan gombal yang sering mengecewakan harapan masyarakat.

Alhasil, Jokowi dan Ahok menurut survey terbukti menempati urutan pertama tingkat keterpilihan pada Pemilu Kada Jakarta dengan angka sekitar 43 – 44 %. Di bawahnya Fauzi dan Nara dengan angka sekitar 33 %, kemudian disusul Hidayat dan Didik 11 %, Faisal – Biem 5 % lebih, Alex – Nono 5 % dan Hendarji – Ahmad Riza 4 %. Raihan angka perolehan suara Pemilu Kada Jakarta ini dianggap menjadi jawaban keinginan masyarakat terhadap perubahan. 

Dan, siapapun kandidatnya, semuanya berpulang kembali kepada masyarakat khususnya warga Jakarta sebagai pemegang hak mutlak siapa pemimpin yang diinginkannya. Namun sayangnya, Pemilu Kada Jakarta sepertinya harus dilanjutkan pada putaran kedua karena semua calon tidak ada yang meraih angka 50% + 1 suara untuk keluar sebagai pemenang. Namun demikian, perhitungan manual yang dilakukan KPU tetaplah menjadi acuan pasti untuk mengetahui siapa pemenangnya meskipun hasilnya diyakini tidak jauh dari quick qount Lembaga Survey Indonesia. Masyarakat diharapkan sabar menunggu sekaligus mengawal agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Apapun hasilnya, meski itu dilanjutkan pada putaran kedua, masyarakat Jakarta siap untuk mensukseskannya. Malah, jangan-jangan jumlah suara golput yang 37% itu tertarik untuk ikut menentukan jagoannya masing-masing.

Sekarang kita kembali pada sosok Penantang serius Sang incumben, Jokowi dan Ahok. 

Coba kita gali dengan pikiran sehat, prestasi apa yang sudah diraih masing-masing kandidat. Khusus Fauzi dan Nara, saya rasa masyarakat Jakarta sudah tidak asing menilai, lalu bagaimana dengan Jokowi dan Ahok. Ya, Jokowi dan Ahok adalah salah satu generasi muda Indonesia yang kini menjabat sebagai Walikota Solo dan Bupati Belitung Timur.

Khusus untuk Jokowi sendiri, dengan keberhasilannya menata Kota Solo, sosok yang dikenal luas sebagai figur yang sederhana dan calm ini mampu memikat akal cerdas pemilih masyarakat Jakarta. Sosok Jokowi bahkan kabarnya sudah dikenal di dunia internasional. Seorang sosok yang fenomenal mendunia. Bahkan dalam sebuah Lembaga Rilis Internasional, dirinya dinobatkan sebagai salah walikota terbaik dunia.

Salah satu programnya yang terkenal adalah menata Pedagang Kaki Lima (PKL) yang sebelumnya semrawut dan kumuh, kini mendapatkan fasilitas yang berkualitas dan menjadi rapi dan bersih. Kehebohan penataan PKL bukan pada tata ruangnya saja tetapi pada gaya pendekatan personal seorang Jokowi dan pembantunya yang dalam bahasa Jawa-nya meng-uwongke (memanusiawikan) PKL. Sebuah gaya dengan strategi yang simple dan sederhana yang tidak perlu mengeluarkan duit besar (seperti mendatangkan ahli). Gaya seperti ini ternyata tidak menimbulkan polemik dan konflik antara Pemerintah dan masyarakat setempat. Gaya inipulah yang banyak di adobe kandidat pemimpin daerah lain ketika hendak mengikuti Pemilu Kada.

Sebuah gaya yang dianggap mampu menerobos kejenuhan sekaligus memberikan ruang perubahan yang diinginkan masyarakat. Elitis dan Birokratis sepertinya membuat jemu masyarakat. Gaya yang smart, polos dan sederhana serta tidak neko-neko sepertinya telah menjadi trending di masyarakat.

Persis ketika, dirinya didaulat untuk menjadi calon Gubernur Jakarta, Jokowi tidak tertarik terpancing dengan kenikmatan pencitraan. Selalu merendah dan tidak merasa ada apa-apanya. Koalisnya hanya satu, yaitu koalisi dengan masyarakat. Alasannya simple, Jokowi menganggap masyarakatlah yang tahu apa yang dibutuhkan bukan ditentukan.

Pernah suatu waktu, figur Jokowi dengan kegigihannya mempertahankan cagar budaya Kota Solo (pabrik es peninggalan Belanda) yang oleh Pemerintah Daerah Jawa Tengah hendak diubah menjadi tempat bisnis dan ekonomi, telah banyak mendapat dukungan warga Solo. Konon kabarnya, atas kegigihannya tersebut, sempat membuat berang Sang Gubernur Jawa Tengah. Namun, Jokowi tetap berlalu dan kokoh pada pendiriannya. Bahkan hubungan dua kader terbaik dari PDI Perjuangan ini dikabarkan retak yang kemudian dibantah oleh Jokowi sendiri.

Sedangkan Ahok, meskipun penulis minim informasi, Ahok adalah pasangan yang pas dan merepresentasikan jiwa muda dan semangat kaum muda Indonesia yang pluralisme. Ahok dianggap mampu menjadi mesin turbo  yang bisa mendorong percepatan pembangunan dengan segudang kemampuannya yang berhasil memimpin Belitung Timur.

Kini sosok pasangan fenomenal ini, lambat laun memikat warga Jakarta yang notabene homogen. Jakarta yang dianggap sebagai barometer rakyat Indonesia pada Pemilu Presiden tahun 2014, sepertinya menjadi kawah candradimuka partai politik untuk bertarung dalam Pilpres yang akan datang. Dengan datangnya Jokowi dan Ahok, kian membuktikan bahwa masyarakat Indonesia yang diwakili Jakarta, menginginkan sebuah perubahan yang berarti. Sebuah perubahan yang mampu membawa Indonesia menuju negara yang adil dan makmur.

Sebuah perubahan juga terhadap sosok pimpinan yang sederhana, pimpinan yang mau dekat dengan rakyat dan pimpinan yang mau meng-uwongke rakyatnya yang dikemas dengan pendekatan dan gaya yang humanis, menepiskan kekuatan otot dan menguatkan akal yang cerdas serta pikiran-pikiran yang sehat, riil, nyata, tidak neko-neko, tidak mencari harta dan tidak menganggap dirinya sebagai super power.

Tulisan ini bukan dimaksud untuk mendukung salah satu kandidat yang akan bertarung kembali dalam Putaran Kedua (raihan angka kandidat tidak ada yang mencapai 50% + 1 suara) Pemilu Kada yang akan digelar September mendatang, tetapi pada keterwakilan aspirasi pribadi yang kebetulan tertarik dengan gaya sepasang kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur yang menepikan elitis dan birokratis tetapi memaksimalkan pada upaya pendekatan yang sederhana, smart, humanis, tidak neko-neko dan merasa dirinya bukanlah manusia yang super. Pengabdian dan ketulusan serta keikhlasan tanpa terpancing dengan dunia pencitraan yang saat ini mengalami titik jenuh dalam pandangan masyarakat.

Senin, 09 Juli 2012

Ada Kepuasan dan Cost Besar Saat Musim Libur Sekolah Tiba


Musim Liburan (Ilustrasi)
Memasuki pekan akhir musim liburan, beberapa tempat wisata mulai memetik hasil keringat dari usahanya. Musim libur sekolah yang serentak dilakukan beberapa waktu lalu, menjadi peluang emas untuk menuai untung besar. Maka tidak heran banyak tempat wisata ramai-ramai menawarkan paket wisata murah dan terjangkau kepada masyarakat yang memanfaatkan jasa tempat wisata. 

Beberapa pendapat mengatakan, libur sekolah merupakan reward bagi siswa sekolah yang telah menempuh ujian sekolah. Beberapa lagi mengatakan, libur sekolah merupakan wadah untuk memberikan hadiah orang tua kepada anaknya yang sudah berusaha menggapai nilai ujian maksimal. Lainnya lagi mengatakan, libur sekolah merupakan cara umum untuk merefresh pikiran yang mengalami ketegangan saat ujian. Terlepas apapun itu, libur sekolah ternyata menjadi peluang tersendiri bagi pengusaha tempat wisata baik yang dikelola oleh pemerintah setempat maupun pribadi.

Seperti musim libur sekolah pertengahan tahun 2012 ini, beberapa tempat wisata banyak dipadati wisatawan domestik. Beberapa tempat yang menjadi incaran biasanya seperti wisata laut, wisata pegunungan, wisata hewan, wisata permainan atau wahana dan wisata-wisata lainnya yang kini banyak menawarkan hiburan menarik bagi pengunjung. Kesan dan cerita tentu menjadi akhir sebuah kegiatan liburan wisata dengan harapan menjadi sebuah kenangan yang indah dan menjadi pilihan berikutnya.

Tidak dipungkiri juga, tempat wisata menjadi tujuan pertama ketika musim liburan datang. Letaknya yang jauh maupun dekat seperti tidak menjadi penghalang, ketika masyarakat mencari tempat untuk menghilangkan kepenatan. 

Datangnya  musim liburan sekolah seakan menjadi waktu yang tepat bagi keluarga untuk berkumpul dan bercengkerama bersama orang-orang kesayangan. Mengisi liburan dengan berwisata semacam menjadi obat penawar untuk melepaskan diri sesaat dari kesibukan sehari-hari. Karena sebagian masyarakat beranggapan, dengan melakukan kegiatan wisata, banyak  manfaat yang bisa diambil seperti komunikasi antar anggota keluarga semakin kuat, dampaknya adalah keharmonisan antar keluarga tetap terjaga.

Adanya anggapan demikian, tentu menjadi daya tarik sendiri ketika pengelola tempat wisata dengan cerdik mengambil peluang usaha. Bisa dibayangkan, berapa banyak rupiah yang bisa ditangguk pengusaha tempat wisata. Masyarakat seperti tidak lagi memikirkan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk sekedar berbagi kebahagiaan terhadap orang yang disayangi. Dan untuk urusan ini, pengelola tempat wisata jagonya bagaimana mendapatkan untung sekaligus memberikan kesan yang berarti bagi masyarakat.

Tinggal kemudian bagaimana masyarakat menyikapi, apakah mengisi liburan sekolah harus selalu ke tempat wisata ataukah ada alternatif lain yang tidak kalah menariknya. Tentu apapu itu, bagi masyarakat yang terpenting adalah ada nuansa segar dan momen indah yang tidak terlupakan. Berapapun cost yang dikeluarkan, sepanjang terjangkau kantong, bukanlah suatu yang sulit bagi masyarakat untuk mendapatkan kepuasan batin.